Teori Komunikasi: Definisi Pembentukan dan Refleksi

nih tugas perdana dari mas syarizal..

 

1.      Apakah definisi dari teori berdasarkan pemikiran-pemikiran di bawah ilmu sosial?

Sesuai dengan pendapat Kerlinger (2000),  teori adalah suatu gagasan yang menjelaskan hubungan antar variabel. Kristalisasi teori dapat berupa definisi atau proposisi yang menyajikan pandangan tentang hubungan antar variabel yang disusun secara sistematis, dengan tujuan untuk memberikan eksplanasi dan prediksi mengenai suatu fenomena.

Secara umum, teori merupakan analisis hubungan antara fakta yang satu dengan fakta yang lain pada sekumpulan fakta-fakta. Sedangkan secara lebih spesifik di dalam ilmu sosial, terdapat pula teori sosial. Neuman (2003) mendefinisikan teori sosial adalah sebagai sebuah sistem dari keterkaitan abstraksi atau ide-ide yang meringkas dan mengorganisasikan pengetahuan tentang dunia sosial.

Onong Uchana Effendy dalam bukunya, Ilmu, Teori, dan Filsafat Komunikasi (2003) mengutip defenisi teori dari Wilbur Schram. “Teori adalah suatu perangkat pernyataan yang saling berkaitan, pada abstraksi dengan kadar tinggi, dan dari padanya proposisi dapat dihasilkan yang dapat diuji secara ilmiah, dan pada landasannya dapat dilakukan pridiksi mengenai prilaku.”

Stephen Little John dalam bukunya Theories Of Human Communication (1995) mengatakan, secara umum teori pada dasarnya memiliki ciri yang sama. Pertama, sebagai seperangkat abstraksi, karenanya bukanlah mencakup semua yang dikonseptualisasikannya, ia parsial dan karenanya pula tak bakal ada teori tunggal soal kebenaran. Kedua, sebagai sebuah konstruksi, teori adalah hasil bentukan manusia, bukan Tuhan. Ia menyediakan beragam cara mengamati lingkungan, tetapi dirinya sendiri bukanlah refleksi semua realitas.

 

2.      Bagaimana cara menyusun teori (proses)?

Prosedur penyusunan landasan teori perlu memperhatikan langkah-langkah sebagai berikut:
1. Melakukan kajian pustaka (literature review) yang relevan, meliputi antara lain buku-buku

referensi, hasil penelitian, jurnal, terbitan ilmiah berkala, abstrak disertasi dan tesis.

2. Melakukan sintesa atau penyatuan makna antara teori yang satu dengan teori yang lain

untuk menjelaskan secara spesifik tentang variabel penelitian biasanya disebut dengan

definisi operasional variabel.

3. Atas dasar hasil kajian pustaka, kemudian peneliti menyusun sendiri kerangka teorinya

dalam susunan kerangka pemikiran yang logis, rasional, dan runtut (sistematis).

4. Dengan dilandasi oleh hasil dari kajian pustaka, kemudian peneliti merumuskan hipotesis penelitian. Hipotesis tidak semata-mata muncul berdasarkan intuisi penelitian, tetapi muncul berdasarkan landasan teori.

 

3.      Gunakanlah sebuah teori, kemudian paparkan kata kunci teori tersebut!

Salah satu konteks dalam teori komunikasi adalah komunikasi massa. Komunikasi massa adalah komunikasi melalui media massa yang ditujukan pada sejumlah khalayak yang besar. Teori-teori dalam komunikasi massa secara umum memfokuskan perhatiannya pada hal-hal yang menyangkut struktur media, hubungan media dan masyarakat, hubungan antara media dan khalayak, aspek-aspek budaya dari komunikasi massa, serta dampak komunikasi massa terhadap individu.

Teori yang saya ambil dari konteks komunikasi massa adalah teori mengenai efek dari kekerasan yang ditayangkan oleh media. Banyak teori yang muncul dalam topik ini, tetapi saya memilih teori pembelajara penelitian (Observational  Learning Theory). Teori  yang dikembangkan oleh Bandura dan Walters  dalam buku Social Learning and Personality Development (1963) ini berasumsi bahwa  orang belajar berperilaku agresif dengan mengamati agresi/penyerangan yang ditayangkan di media dan, dalam kondisi tertentu, memperagakan perilaku seperti karakter media yang agresif tersebut. Penayangan kekerasan lewat TV atau media lain dapat meningkatkan kemungkinan penonton bersikap agresif karena memberi kesempatan pada penonton untuk belajar bagaimana cara bersifat agresif dan menampilkan karakter-karakter bengis/kasar yang bertindak sebagai patokan bagi penonton.

Teori ini tidak menetapkan bahwa penonton akan secara otomatis mempraktekkan perilaku agresif yang baru saja mereka pelajari. Kemungkinan penonton dalam memperlihatkan perilaku kekerasan yang telah mereka pelajari disebabkan oleh beberapa faktor seperti keinginan untuk disegani oleh orang lain karena berperilaku seperti itu, persamaan situasi yang dialami penonton dengan gambaran yang ditayangkan di TV, dan antisipasi dukungan sosial dari teman penonton yang menyukai aksi  kekerasan dalam karakter TV.

Menurut pendapat saya, para tokoh membuat teori ini didasarkan pada anggapan bahwa otak manusia dapat dengan mudah menyerap apa yang mereka lihat. Seperti yang kita ketahui, intensitas manusia dalam menonton TV pada masa kini termasuk besar. Tidak dapat dipungkiri bahwa media ini memiliki peranan yang besar dalam mempengaruhi pola pikir penonton, terutama bagi yang suka menonton. Dapat dikatakan bahwa media, terutama TV, adalah salah satu media pembelajaran yang efektif. Apa yang biasa ditayangkan dalam TV secara tidak langsung menjadi trendsetter , baik berupa barang maupun perilaku. Kekerasan adalah hal yang tidak dapat dipisahkan dari diri manusia. Secara naluriah, manusia memiliki hasrat dalam hal ini, hanya saja keinginan ini masih dapat dikontrol dalam kondisi tertentu. Namun, hasrat ini bisa muncul bila ada pemicu yang mendorong manusia berperilaku agresif yang kemudian menjurus ke arah kekerasan.

TV dan kekerasan, kedua hal ini sudah tidak asing lagi dalam kehidupan sehari-hari. Mungkin pada awalnya penonton segan untuk berperilaku agresif, tetapi seiring perkembangan zaman di mana media semakin transparan dalam menampilkan hal-hal yang biasa terjadi. Tak heran bila kekerasan banyak bertebaran dalam media, terutama TV. Hal ini membuat penonton berpikir untuk bertindak agresif karena dipicu oleh kekerasan yang sering ditayangkan TV. Menurut saya, kekerasan muncul karena ada pihak yang menyerang terlebih dahulu,dalam hal ini bsa dikatakan berperilaku agresif. Jadi dapat disimpulkan bahwa kekerasan yang ditampilkan media memicu penonton untuk berperilaku agresif karena beberapa faktor yang menjadi penyebab munculnya perilaku agresif.

 

 

Daftar Pustaka

 

Buku:

De Fleur, Melvin L. dan Sandra Ball-Rokeach. 1982. Theories of Mass Communication. New York & London: Longman.

Effendy, Onong Uchjana. (2003). Ilmu Komunikasi: Teori dan Praktek. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

 

Situs:
http://www.shvoong.com/social-sciences/education/2026804-cara-membuat-dan-pengertian-deskripsi/

http://id.wikipedia.org/wiki/Teori

http://www.akujagoan.com/2010/07/pengertian-mengenai-ilmu-dan-teori.html

2 pemikiran pada “Teori Komunikasi: Definisi Pembentukan dan Refleksi

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s