Akhirnya Ketemu Karimunjawa!

Dari sekian banyak wisata yang saya datangi (dan belum sempat diceritakan di sini), kali ini saya akan bahas tentang Karimunjawa secara lengkap dari awal sampai akhir. Kenapa wisata satu ini didahulukan? Karena sahabat saya Pristianingtyas Leonita alias Titum sudah kasih mandat buat menceritakannya di blog hehehe. Kalau engga, ya saya juga pasti menunda-nunda sampai lupa…….

Oks, langsung ke perjalanan saja ya. Here we go!

Jumat malam(24/3) saya dan Titum janjian di Stasiun Pasar Senen karena kereta kami akan berangkat pukul 23 ke Stasiun Semarang Poncol. Tiket kereta sudah kami pesan jauh-jauh hari sebelumnya dan ditotal per orang menghabiskan Rp 311 ribu PP. Kami berangkat tepat waktu dan sampai di Stasiun Pocol pukul 6 keesokan harinya.

image

Sampai di sana, kami mencari travel yang sudah kami pesan, yaitu Kencana Travel. Biaya pesan PP Rp 90 ribu per orang dan karena tidak dijemput di pool, maka kami harus menambah Rp 20 ribu per orang. Kami bertemu dengan mobil travel setelah etengah jam mencari-cari tempat parkir mobil, kami bingung karena tidak dihubungi langsung dari pihak sana…… Hih.

Waktu dari Semarang ke Jepara sekitar 2 jam, tak pakai macet, katanya Titum (soalnya saya langsung pelor begitu rebahan di mobil).

image

Oks, kami pun lanjut ke Jepara, atau lebih tepatnya Pelabuhan Kartini untuk selanjurnya menyeberang dengan kapal feri express Bahari. Sejujurnya, saya akui ini ketololan saya, kami tak memesan tiket kapal dengan asumsi bisa on the spot. Kami lupa kalau itu bertepatan dengan long weekend sehingga tiket pastinya sudah ludes dong…….

Dan benar saja, ternyata penyeberangan Sabtu sudah habis dan yang tersisa tinggal hari Senin. Kebayang dong kagetnya kami? Ya ampun, masa ga jadi sih….. Saya sampai tanya-tanya kalau ada yang ngebatalin tapi ternyata sudah dibeli juga sama orang lain.

Langsung lemas dan saya pun pasrah. Buka hape dan langsung searching tempat wisata di Jepara (dengan maksud menghabiskan dua hari ke depan di sini saja sudah) tapi gimana penginapannya nanti…

Sementara Titum langsung hubungi pihak hotel yang sudah kami pesan selama di Karimunjaya. Tak lama, dia langsung ditelepon dan ngobrol sebentar dengan pihak hotel. Ternyata ada tiket yang dibatalkan, dan kami bisa pakai. Tapi harus bayar dua kali lipat karena yang punya tiket tak mau rugi, dari Rp 150 ribu jadi Rp 300 ribu. Astaga!

Tapi karena sudah kepalang sampai sana, dan seperti kata Titum:

“Malu dong udah bilang mau ke Karimunjawa tapi malah ga jadi…” (dan emang kita berdua udah heboh banget sampai cari-cari bikini beberapa bulan sebelumnya sih)

Kami pun setuju dan membayar dua kali lipat. Oiya, perlu diketahui, jarak antara tempat penjualan tiket kapal dengan pelabuhan lumayan jauh, sekitar 500 meter, kami ke sana jalan kaki karena saat itu masih pukul 9 lebih, sementara kapal berangkat pukul 10 pagi.

Setelah bertransaksi, kami langsung meluncur ke pelabuhan, tapi kali ini dengan naik satu motor, yaitu motor si calo Mas Kampret, alias bonceng tiga! Bodoamat udah ga peduli lagi pokoknya naik kapal dah…

Begitu Mas Kampret parkir, langsung digodain sama cowok-cowok di sana, dan dimalah bilang:

“Ini pacar-pacarku!” sambil ketawa. Saya, balas, “Bodoamat, mas, yang penting gue nyampe dah…”

Sampailah kami di pelabuhan, yang ternyata cukup ketat karena diperiksa juga KTP si pemiliki tiket. Untung sempat ganti nama, kalau engga ya wasalam….. Kami pun duduk tenang dan sempat tiduran karena waktu perjalanan sekitar 2 jam.

image
Jalan menuju kapal

Sesampainya di Karimunjawa, kami langsung bertemu dengan orang hostel, yaitu The Hapinezz. Setelah menunggu sebentar, kami pun meluncur ke hostel yang tempatnya lumayan juga ternyata. Setelah bersantai sebentar, dan membereskan perihal pembayaran dimana kamar yang kami sewa seharga Rp 225 ribu permalam dengan fasilitas kipas angin dan kamar mandi dalam, kami diberi peta lokasi wisata di pulau tersebut.

Hari pertama kami memutuskan untuk pergi ke daerah yang tak berhubungan sama pantai, jadi kami memilih Hutan Mangrove (pilihan Titum) dan Bukit Joko Tuwo untuk melihat sunset (pilihan saya). Kami menyewa kendaraan motor seharga Rp 75 ribu dan langsung meluncur ke dua tempat tersebut. Perjalanan ke Hutan Mangrove cukup jauh sih, sekitar 20 menit mungkin ya. Saya yang menyetir karena Titum pernah mengalami trauma naik motor matic. Tidak apa-apa, lagian saya juga sudah lama tak naik motor.

Sesampainya di hutan mangrove, kami membayar Rp 10 ribu per orang dan bebas menapaki jembatan kecil dengan pemandangan pohon mangrove yang lembab. Saran saya, lebih baik menggunakan lotion nyamuk karena sangat banyak nyamuk di sana dan ganas! Sampai-sampai kami ambil foto terburu-buru karena tak sanggup dengan serangan mereka.

image

Ada spot yang bagus di hutan ini, seperti rumah terbuka yang tinggi. Tapi kami tak naik karena sudah kehabisan tenaga, kami hanya melakukan video singkat untuk dipamerkan di media sosial Instagram…

image

Kami pun meluncur ke Bukit Joko Tuwo sekitar pukul 4 sore supaya tidak ketinggalan mengejar sunset. Saat akan naik ke atas, ada biaya retribusi Rp 10 ribu per orang. Sayangnya, saya rasa untuk urusan dijadikan tempat pariwisata, aksesnya masih perlu diperbaiki lagi. Petugas retribusinya juga kurang layak ya, hanya orang nungguin begitu aja.

image

Oks, jarak dari bawah ke bukit menurut saya sih tidak terlalu jauh, sekitar 100 meter. Sesampainya di atas, ada tiga spot yang bagus untuk diambil gambarnya. Jadi. Buat mereka yang ingin menangkap momen sunset dengan bagus, semua titik bagus lho!

Malamnya, kami mencoba wisata kuliner keEat & Meet Cafe, kafe dengan konsep masakan Barat. Kami hanya memesan pizza dan pasta saja, kalau harga sama saja dengan kalau kongkow di Jakarta. Kami berdua habis Rp 150 ribu. Cukup murah, jika melihat porsinya yang banyak sampai-sampai kami tak habis. Setelah itu, kami bersantai di depan hostel yang menyediakan hammorck. Leyeh-leyeh sampai pukul 11 malam sambil mainan hape dan lihat-lihat bintang.

image

Esoknya, kami snorkling ke tiga pulau. Karena kami duduk di belakang, kami tidak terlalu mendengar apa yang dibilang sama guide, kecuali dilarang menyentuh karang! Oiya, kami snorkling dengan menggunakan jasa tour hostel tempat kami menginap dengan mengeluarkan kocek Rp 200 ribu per orang, itu sudah termasuk sewa alat snorkling, kapal, mendapat foto dan makan siang.

image

Sayangnya, cuaca kurang mendukung dimana saat makan siang, hujan deras hingga kami makan sambil payungan. Bahkan, makanan kami tercampur dengan air hujan! Pengalaman yang luar biasa….

image

Selain itu, mendung terus-menerus hingga sore sehingga kami tak bisa mendapatkan sunset dan langsung pulang sebelum matahari tenggelam. Kami pun tak masalah karena kami sejujurnya sudah kedinginan jika tak nyemplung ke air.

image

Oiya, berbicara soal koral atau terumbu karangnya, saya suka sekali! Sangat berwarna, dari warna biru hingga ada yang merah muda. Beragam ikan juga tak takut pada manusia sehingga kami serasa berenang ditemani mereka.

image

Malam hari, saya dan Titum pergi ke Alun-alun. Di sana kami memesan seafood yang harganya murah sekali, yaitu cumi saus tiram Rp 25 ribu dan ikan kerapu bakar dengan harga yang sama. Ya ampun, murah dan enak….. meski agak gerimis, kami tetap mekan di tengah lapangan yang memang sudah disediakan tikar dan meja.

image

Selain itu, di pinggiran ada penjual oelh-oleh bertebaran dimana kebanyakan menjual pakaian. Saya pun membeli beberapa makan ringan, yaitu pastel kecil isi abon ikan dan kerupuk ikan asin dengan masing-masing harga Rp 10 ribu. Lumayan, oleh-oleh buat anak kantor.

Esoknya, kami hanya bermalas-malasan karena badan sudah sakit semua. Kami sarapan dan mainan papan panah bulat (malas mencaritahu nama permainannya) dan bermain catur dengan pemilik hostel. Sambil menunggu kepastian bagaimana kami nanti pulangnya karena tiket kapal masih dicari hehehe.

Karena kapal berangkat pukul 12 siang, kami berangkat satu jam sebelumnya. Ternyata cukup ramai karena berbarengan dengan kapal yang baru sampai. Setelah sempat dibuat jantungan karena tiket juga penuh, kami akhirnya bisa naik kapal, lagi-lagi dengan biaya tambahan.

Setelah jantungan jilid 1, kami lagi-lagi harus jantungan lanjutan karena travel yang kami pesan lama banget datangnya! Sampai harus ditelepon berulang kali, bilangnya pukul 3 sore dijemput, eh malah satu jam ngaret! Padahal kereta kami meluncur pukul 18.40. Udah ga bisa diungkapkan lagi gimana perasaan kalao ketinggalan, mana macet pula. Tapi, by the grace of God, kami sampai sekitar 10 menit sebelum berangkat. Fiuh! Begitu di kereta, kami langsung tenang adem tentram….

Ya, begitulah perjalanan wisata pertama saya dengan sahabat sejak SMA Titum yang sebar dilakuin sendiri. Emang capek sih, tapi banyak pengalaman seru yang didapat dan ga sabar untuk merencanakan liburan-liburan lain dengan orang-orang yang bisa diandalkan di setiap saat!

Bunch of loves,
Yanti Nainggolan

BW from 2016

Still on new year atmosphere, but I’m on the mood to show you a BW photos of me that somehow give forth most of my soul and feeling about last year.

By the way, all these photos taken by my new friend, Ferrian Reinaldi. Catch him through Instagram @adaptasi and you’ll get your eyes re-energized.

image

image

image

image

image

image

image

image

image

image

image

Bunch of loves,
Yanti Nainggolan

2017 means big change(s)

2017 will be a quite important year to me. There are some changes and I’m so excited! It’s like a have something like to-do-list that waiting to be done while you’re a kid: feeling flare up and challenging. And I know it’s not gonna be easy, I also know that I’m not gonna be alone to face it.  

Well, not all people love transformation or change. But, today I learn something that make me believe change is not that bad, exciting instead. It’s those people who encourage you, support you to make that change. No matter how brave you are to change, if you don’t have companion or someone who push you to do that, you’ll just stuck on the same place. I do believe this. 

It’s simply because you’ll need someone to rely on when you feeling like give up. I know that there are some people that dislike with the change you’ve (or you’ll) make but they’ll always by your side in any situation. But, no, sometimes it’s better to talk to people who support you from the beginning. Why? Because somehow you’ll give mental investment on that people. Your supporters are like a bank where you save your hope on them, through words you say. 

Your supporters will never say ‘Told ya, it’s not gonna work out’ cus even though you failed, they’ just say ‘i’ts OK’ in so many way: hug you, keep smile, and something sweet acts to make you feel better. And you’ll get better, get up, and fight the world again cus you get a new power. That power that already you’ve invest to somebody that make you stronger!

So, just like I wrote, find your own supporter before make change. Everybody needs a deposit to make something big change, at least for yourself, include mental saving. Right?

And honestly, I hate those people who come to you just say ‘Let’s back to the basic, leave that change’. Sorry, let’s not be friend anymore!

image
Even your expressions always change

Bunch of loves,
Yanti Nainggolan

Kenapa Warna Biru, Yan?

Pertanyaan yang paling sering saya dengar setelah mereka memuji, “Wah, rambut kamu keren, ya!”

Dan kemudian, saya hanya menjawab, “Biar keren aja!” seakan menyetujui argumen mereka. 

Ya, banyak orang menanyakan alasan yang saya sendiri merasa bingung menjawabnya. Haruskah selalu ada alasan untuk sesuatu yang tak wajar? Bagaimana bila ternyata jawaban alasan yang dilontarkan justru tak memuaskan sang penanya? Walaupun dalam kasus saya, semua jawaban tentu dianggap memuaskan (karena mereka juga sebenarnya hanya basa-basi saja, saya tahu).

Ada yang bergurau, bilang saya terlalu cinta pada perusahaan tempat saya bekerja yang memang didominasi oleh warna biru. Gurauan yang cukup bapuk saya rasa…

Kalau boleh jujur, alasan saya meng-ombre warna biru adalah supaya terlihat mencolok. Yah, tujuan ombre memang untuk terlihat mencolok. Namun, tak semua orang berani semencolok saya. Akui saja. Sejujurnya, awalnya saya ingin ombre pink, yang terkesan lebih cute atau feminim. Tapi ternyata tidak ada warna tersebut dan pilihan yang ada hanya biru.

Sesederhana itu alasan saya, tak ada filosofi dalam yang bisa diceritakan sebagai latar belakang. Maaf, membuat penonton kecewa. Itulah kesalahan dari berharap lebih (Apasih…)

image

Bunch of loves,
Yanti Nainggolan

Jalan-jalan ke JungleLand Sentul, Asik!

Piknik dulu lah, biar ga gila. -Yanti, 2016.

Minggu (4/12), saya dan segenap keluarga besar Metro TV berbondong-bondong hijrah ke JungleLand Sentul City di Bogor untuk mengikuti family gathering MetroFest2016. Tentu saja semua bersemangat, biarpun di ibukota sedang ada acara besar #KitaIndonesia yang diasumsikan sebagai saingan Aksi Bela Islam Jilid 3. Padahal ya engga…

Oke, balik lagi ke MetroFest2016, kami pun berkumpul di kantor, yaitu gedung Metro TV pukul 5 pagi. Sebenarnya, pukul setengah 6, tapi karena teman saya Sonya didaulat jadi koordinator bus, saya pun diajak jadi asistennya. Jadilah kami jam 5 pagi sudah meluncur ke Lobby Grand. Ternyata beberapa orang/keluarga sudah nongkrong duluan di sana. Wuih…… Bangun jam berapa mereka? Saya yang cuma 3 menit jalan kaki aja rasanya masih ngantuk.

Singkat cerita, kami pun berangkat sekitar pukul setengah 7 dan sampai di sana sekitar pukul setengah 9. Sejujurnya saya gak tahu bagaimana perjalanan, kata mereka sih bus berjalan sangat lambat, karena saya langsung terlelap begitu kepala nempel di kursih hahahaha.

Sesampainya di sana, kami langsung meregistrasikan diri dan mencari teman-teman yang kami kenal yang kemudian dilanjutkan dengan swafoto bersama.

image

image

image

image

Setelah itu, kami diberikan es krim sebagai welcoming snack. Lumayan, janggal perut sebelum mencoba wahana (walaupun sudah diberi jajanan pasar waktu regitrasi). Kami menghabiskan es krim dengan perpaduan rasa yang wagu (alias ga nyambung) di spot replika candi. Saya googling, tak ada namanya heeee.

image

Setelah perut lumayan terisi, kami pun mulai mencari wahana yang ingin dimainkan. Pasukan kami terdiri dari 8 orang reporter yang 7 diantaranya masih lajang (belum nikah maksudnya) yaitu Kak Oje (Githa Farahdina), Bang Deny (Deny Irwanto), Bang Ogi (Yogi Bayu Aji), Bang Dheri (Dheri Agriesta), Bang Arga (Arga Soemantri), Onye (Sonya Michaella), dan Nunu (Whisnu Mardiansyah).

Kami pun mencoba wahana pertama, yaitu Wave Swinger. Wahana ini seperti Ontang-Anting di Dufan, tapi versi ringan. Biarpun begitu, saya tetap saja deg-degan. Karena ada yang takut, akhirnya yang naik hanya berempat: saya, Onye, Bang Ogi dan Bang Dheri. Saat wahana dimainkan, saya lumayan takut tapi kemudian saya malah jadi ketawa-ketawa sendiri soalnya Bang Ogi yang duduk di belakang saya teriak-teriak heboh banget! Asli, saya ngakak-ngakak sambil teriak-teriak ga jelas (biar ga kalah heboh sama Bang Ogi) hahaha!

image

Setelah itu, kami beralih ke Harvest Time. Ini semacam roller coaster mini yang hanya dua putaran. Kami sebenarnya tak terlalu cemas karena memang tak terlalu kencang dan ekstrem jalurnya. Namun jantung kami lumayan terpacu saat kereta setengah miring karena sejujurnya kami semua merasa kereta tidak stabil! Jadilah kami sok-sok heboh teriak-teriak ga jelas biar berasa asik hihihi.

Kemudian kami beranjak ke wahana ketiga, Haunted House alias rumah hantu. Di wahana ini, Bang Deny gamau masuk, jadilah kami bertujuh aja. Dan ketahuan sudah pada penakut ini reporter-reporter sangar fisik. Saya disuruh paling depan saat menuju kereta, sambil didorong-dorong pula! Padahal saat itu ada bapak-bapak di depan saya, eh dia ikutan mundur, malah di belakang Bang Arga… Pas saya berhenti gamau maju, mereka juga ikutan berhenti, ya ampun! Singkat cerita, kami naik kereta yang isinya masing-masing 4 orang. Kereta kami berisikan saya dan Bang Arga di depan, Onye dan Bang Dheri di belakang. Dan ternyata Nunu ga kebagian tempat duduk, jadilah dia harus nunggu giliran berikutnya. Hahahaha, kasian sih mana mukanya juga rada takut gitu lagi. Ya masa nanti dia ketakutan, megang-megang bahu orang ga dikenal? Kan tengsin!

Kereta pun berjalan sangat lambat supaya kami bisa melihat boneka-boneka ala bule menyeramkan (yang pastinya berlumuran darah dan baju robek-robek) disertai demgan perabot-perabot usang yang biaa menimbulkan bunyi-bunyi menyeramkan. Rasanya, kami lebih menikmati ketimbang ketakutan. Ketika masih ada cahaya, kami tidak terlalu takut, bahkan bisa ngobrol-ngobrol santai. Namun, kami cukup ketakutan ketika tiba-tiba ada orang yang muncul dari tikungan gelap! Sontak saya tarik-tarik lengan baju Bang Arga dan Onye pun demikian dari belakang hahahaha. Kami berdua teriak-teriak heboh. Ternyata itu hanya petugas yang sepertinya tidak dimaksudkan untuk menakuti, karena baju dia juga biasa aja.

Keluar dari wahan tersebut, Kak Oje bilang kalau di keretanya ada bapak-bapak yang melawak dimana saat melewati ruang penjara, bapak itu malah bilang ke boneka: “Lu ngapain sih kok sampai bisa masuk penjara?” Hahahaha asli lawak sih!

Menjelang siang, kami pun kelaparan. Saat menuju panggung utama untuk minta konsumsi, kami menyempatkan diri untuk mampir ke wahana yang searah, yaitu Dino World. Seperti namanya, ini semacam museum kecil makhluk purbakala. Tempatnya gelap dan ada efek suara-suara dari makhluk-makhluk yang saya kenal lewat film Jurassic Park dan Godzilla tersebut. Kami pun ikut mengeluarkan suara-suara yang serupa, erangan yang ga jelas antara singa kelaparan atau orang nguap kepanjangan…

image

image

Siangnya, setelah makan, kami mampir ke Three Point Basket. Saya sih karena pakai sepatu sendal, cukup tahu diri dengan diam saja dan iseng foto-foto wahana di sebelah, Rainbow Train buat anak-anak. Tapi aaya bosan dan kemudian berkelana sendiri mencari spot yang bagus.

image

image

image

image

image

image

Sayangnya, siang hari hujan deras sehingga saya dan Onye yang udah ngantri setengah jam batal bermain wahana yang saya lupa apa namanya (lupa googling hehe, tapi ada gambarnya kok). Padahal itu adalah wahana yang pengen banget saya coba soalnya bisa berputar 360 derajat! Seru nih pasti…..

image

image

Kami pun akhirnya berteduh sambil tidur-tidur ayam karena sangat ngantuk. Tapi ya namanya wartawan ya, semua kejadian difoto aja. Kali ini Bang Arga sama Bang Dheri iseng banget bikin meme dari foto-foto kita, semua jadi korban! Tapi lucu sih hahahahaha

image

image

image

image

Setelah hujan reda, kami pun nongkrong-nongkong di Starbucks yang ada di depan karena udah males coba wahana lain. Kami lebih butuh kopi untuk membuat mata tetap melek! Dan ternyata emang hujan deras datang lagi, untunglah kami tak lanjut. Kami pun menunggu kepulangan dengan ngobrol-ngobrol syantik (alias gosip hangat soal kantor hihi).

Demikianlah awal minggu di bulan Desember 2016 saya habiskan. Cukup menyenangkan dan menyegarkan pikiran tentunya. Selain bisa memacu adrenalin, keakraban pun semakin erat. Senangnya!

Terakhir, sebagai anak kekinian, tentunya tak afdol kalo belum pamer swafoto hihihi. Ga banyak kok, cuma dua :p

image

image

Bunch of loves,
Yanti Nainggolan

Hola, (Half) Blue Hair!

Sudah lama sekali tak mengisi blog ya. Cukup terlihat usang. Sebenarnya ada tulisan yang sudah disiapkan, namun apa daya terhapus bersama tulisan-tulisan lain……

Okay, mari buka lembaran baru saja dengan topik yang tak kalah penting dalam fase kehidupan seorang Yanti (halah!).

Awal November tahun ini, tepatnya tanggal 4, saya pulang ke kota tercinta Yogyakarta dalam rangka merayakan satu tahun saya bekerja. Ya, ini adalah cuti perdana. Sampai Jumat pagi setelah menempuh perjalanan selama 8 jam naik kereta, saya pun mengistirahatkan tubuh hingga menjelang siang sekaligus menunggu si Bontot adik tersayang (yang kelak akan menjadi supir) pulang kuliah.

Kemudian, setelah berdiskusi panjang akan ke salon mana, akhirnya kami sepakat menyambangi Salon Flaurent Kotabaru karena menurut si Bontot, salon itu menyediakan jasa rambut ombre.

Kami sampai di sana sekitar pukul 3 sore dan selesai pukul setengah 7 malam. Iya, lebih lama dari nonton Interstellar. Saya rasa, waktunya jadi lama karena harus di-bleaching dua kali. Maklum, rambut saya hitam banget biarpun sudah pernah di-cat coklat tua. Saat proses selesai, salon sudah tutup dan hanya tersisa dua pelanggan.

Rambut ombre ternyata tak mudah dalam merawatnya. Menurut mbak salon, lima pengeramasan awal akan membuat rambut luntur parah. Setelah itu, rambut akan tetap luntur tapi tidak terlalu banyak. Pada dasarnya, rambut ombre pasti akan luntur dan tergolong cepat. Iya lah, kan tiap keramas pasti luntur. Oiya, rambut ombre tak bisa merata lunturnya karena dari pengalaman pribadi, saya juga tak mengeramas secara menyeluruh. Jadi bagian yang luntur pun tak menyeluruh.

Oleh karena itu, saya sarankan untuk menggunakan handuk khusus (kalau bisa yang sudah usang) karena nantinya akan kelunturan. Selain itu, setelah keramas pakailah baju berwarna gelap (hitam paling aman) karena tak menutup kemungkinan tetesan rambut pun masih berwarna rambut ombre.

Dalam hal pengeringan, menurut informasi dunia maya, usahakan secara alami. Selama rambut masih ombre, jangan menggunakana alat-alat pemanas untuk rambut, seperti hair dryer atau alat catok/pengeriting. Alasannya? Rambut biasa saja rusak pakai itu, apalagi rambut ombre yang juga sudah kepalang rusak. Puji Tuhan, saya emang gak biasa pake begituan. Jadi tak merasakan adanya perubahan signifikan dalam ritual kecantikan satu ini.

Oiya, ngomongin keramas, ga afdol kalau ga omongin sampo. Mbak salon sebelumnya sudah mengingatkan agar memghindari sampo anti ketombe atau sampo dengan rasa mint. Entah mengapa, ga pernah pakai jenis sampo itu juga sih soalnya.

Ada sampo khusus untuk rambut berwarna yang tersedia di pasaran dengan harga yang lumayan mahal dibanding sampo biasa. Awalnya saya merasa tak akan ada perbedaan, namun ternyata saya salah. Jadi, setelah meng-ombre rambut, saya menggunakan sampo saya yang biasa. Di sinilah ketololan dimulai. Saya lupa kalau jenis sampo saya ada purifying yang artinya membuat warna asli makin terlihat. Keramas pertama, warna air bilasan biru buanget! Untungnya saya tidak melanjutkan ketololan lain dengan memakai kondisioner yang khusus untuk rambut gelap yang biasa saya pakai….

Karena stres sendiri melihat luntur yang sangat banyak, saya mencoba ganti sampo dengan rasa buah-buahan, tapi masih sampo biasa. Hasilnya tak jauh berbeda. Bilasan keramas masih sangat biru dan setelah kering rambut sangat kaku seperti kanebo kering.

Akhirnya, setelah dua minggu nerambut biru, saya memutuskan untuk membeli sampo khusus rambut berwarna beserta kondisoner. Bukan disengaja, tapi waktu itu saya malas pulang ke kos dan akhirnya jalan-jalan sebentar ke Carrefo#r untuk membuang waktu (dan berujung pada buang uang). Tapi ternyata saya tak menyesal setelah membeli sampo tersebut karena sekarang rambut saya lebih beradab. Maksudnya, bagian ombre tidak terlalu kering lagi. Jadi saya puas dengan sampo ini!

Sejauh ini, begitulah proses saya berambut biru dari awal hingga perawatan. Oiya, saya sekarang kalau keramas dua hari sekali (biasanya tiap hari) supaya warna rambut tahan lama. Maklum, harganya mahal jadi harus dipertahankan selama mungkin (normalnya tiga sampai enam bulan sebelum pudar ke warna bleaching).

Dan saya pun kini berambut setengah biru!

image
Before
image
After

Bunch of loves,
Yanti Nainggolan

Who’s these two girls?

image

On one package: superb sisters, crazy friends, abnormal partners, worst enemies, amateur therapists, or even unexpected soulmates.

image

image

image

image

That’s why I wanna keep them like forever cuz they’re always by my side in a good or bad conditions.

Thankyou for the love that you both give for me, Paskah Andriany Purba and Evi Komala Simamora.

A friend loves at all times, and a brother is born for a time of adversity. (Proverbs 17:17)

Bunch of loves,
Yanti Nainggolan