Film yang membuat penontonnya sangat terhibur. Padahal film ini merupakan sindiran yang cukup menyentil hati para pendukung Hitler. Dengan Charlie Chaplin sebagai pemeran utama yang berperan sebagai tukang potong rambut Yahudi sekaligus Adenoid Hynkel, yang mencerminkan seorang Adolf Hitler. Film hitam putih ini ternyata film pertama di mana Caplin mengeluarkan suara. Film hitam putih ini juga menyabet berbagai penghargaan dalam Academy Award, yaitu: Outstanding ProductionUnited Artists (Charlie Chaplin, Produser), Best Actor – Charlie Chaplin, Best Writing (Original Screenplay) – Charlie Chaplin, Best Supporting ActorJack Oakie dan Best Music (Original Score).

Hal yang menarik dari film ini adalah bagaimana seorang Chaplin bisa membuat film yang sebenarnya beralur berat menjadi ringan dengan sentuhan komedi pada bagian yang tepat. Bila dilihat, ada bagian di mana adegan itu merupakan kejadian nyata yang terjadi beberapa tahun silam. Namun film ini membelokkan cerita hingga menjadi lebih mudah diterima dan berkesan lucu. Namun tak dapat dipungkiri ranah politik benar-benar tercium menyengat dalam film ini. Dalam tulisan ini saya hanya membahas tentang Hynkel saja karena secara pribadi saya menyukai Hitler.

Adegan yang menarik adalah ketika Hynkel menari-nari kegirangan saat membayangkan ia akan menjadi penguasa dunia. Dalam ruangannya, ia menari dengan slow motion dan lemah gemulai. Cukup menggelikan. Dengan durasi yang cukup lama, ia menari ke segala arah dalam ruangannya. Ia bahkan menari-nari dia atas meja dengan bola globe plastik sebagai temannya. Globe itu dilambungkan berulang kali hingga pecah dan dia sendiri kaget. Sangat menggelikan. Melalui kejadian ini, lewat seni menari dalam yang dilakukan Hynkel, menunjukkan bahwa ada unsur seni dalam film ini.

Selain itu ada juga hal yang menggelikan berkenaan dengan kebiasaan seorang Hynkel. Ia memiliki ruangan dimana terdapat seorang pemahat patung dan pelukis yang stay di sana sepanjang waktu, berpura-pura memahat dan melukis ketika Hynkel datang. Hynkel mendatangi ruangan itu hanya untuk selingan sesaat yang berkesan wajib. Meski sibuk, ia tetap mendatang ruangan itu selama beberapa detik. Pemahat dan pelukis sendiri merasa kesal dengan pekerjaan mereka yang tidak jelas. Pasalnya lukisan dan pahatan patung sudah jadi sehingga tak ada lagi yang bisa mereka kerjakan. Hynkel berulang kali datang ke ruangan itu dengan suasana hati yang berbeda-beda. Salah satu adegan yang kocak karena menurut saya hal itu sangat tidak penting. Tatapi saya jadi berpikir bahwa sebenarnya Hynkel adalah seorang yang narsis atau memuja dirinya sendiri. membuat patung dirinya, lukisan dirinya dan kebiasaan melihatnya merupakan salah satu bentuk narsisme yang tinggi. Saya sendiri penasaran apakah Htitler, tokoh yang disindir, adalah seorang narsis atau bukan. Tapi bisa juga itu hanya lucu-lucuan saja agar penonton terhibur.

Dalam film ini juga memperlihatkan bagaimana pidato Hynkel yang menurut saya sangat bagus. Tak heran banyak orang mengikut dia. Dengan intonasi yang tegas dan menggebu-gebu, tentu ia sangat meyakinkan. Tak lupa ekspresi wajah yang berubah-ubah seiring kata-kata yang ia keluarkan. Dengan penuh percaya diri dan tanpa malu ia juga menunjukkan body language yang tak biasa. Tapi tentu saja unsur komedi tak hilang dari adengan ini. Justru kelakuan kocak tampak terlihat jelas, contohnya mic yang bengkok sendiri ketika didekati. Memang film ini dibuat hanya untuk mengocok perut para penontonnya saja.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s