Minggu lalu saya bersama teman-teman menonton sebuah film buatan anak negeri yang yang berjudul Sang Penari. Dari judulnya saja, saya sudah bisa menebak kalau film ini akan bercerita tentang kebiasaan suatu daerah yang berbau mistis. Sebagian hipotesa saya ini ternyata tidak salah. Pada awalnya saya tidak terlalu tertarik. Setelah menontonnya, saya tidak merasa rugi sama telah menghabiskan waktu kurang dari dua jam dalam ruangan besar gelap karena film ini tidak mengecewakan, untuk ukuran film Indonesia.

 

Sang Penari menceritakan kisah seorang gadis bernama Srintil yang sangat berambisi menjadi seorang penari ronggeng di Dukuh Paruk. Bukan hal yang mudah karena menjadi penari ronggeng haruslah memiliki keris yang membuktikan bahwa ia memang utusan roh. Srintil, dengan bantuan Rasus, akhirnya diakui sebagai penari ronggeng. Srintil mau melakukan apa saja untuk itu, termasuk melakukan ritual ’buka kelambu’ di mana ia harus menyerahkan keperawanannya pada para  laki-laki yang kaya di kampung itu dan melakukan hubungan seks dengan mereka sesudah menari ronggeng. Rasus, laki-laki yang mencintai Srintil, tidak suka dengan hal itu. Namun ia tidak bisa berbuat banyak. Nasib berkata lain, ia diajak menjadi pasukan militer sehingga harus meninggalkan Dukuh Paruk.

 

Waktu berlalu, Srintil telah menjadi seorang penari ronggeng yang terkenal. Pada saat yang bersamaan, ia bertemu kembali dengan Rasus yang bertugas melihat keadaan dukuh tersebut yang diduga sudah dipengaruhi oleh PKI. Di sinilah terbukti bahwa sasaran partai adalah daerah yang tidak melek terhadap politik. Cinta Rasus yang besar terlihat melalui usahanya yang gigih mencari Srintil yang juga tertangkap. Singkat cerita, Srintil tetap mejadi seorang penari hingga akhir cerita walaupun hanya penari jalanan. Akhir cerita yang menunjukan konsistensi seorang pemeran utama yang tetap melakukan pekerjaan yang sangat dicintainya.

 

Film yang cukup menarik karena berani menguak suatu adat daerah yang tidak biasa. Cukup kaget saat ada adegan di mana para ibu-ibu malah tidak keberatan jika suami mereka berhubungan seks dengan Srintil. Jelas bukan hal yang lazim dalam kehidupan saat ini. Namun di sinilah justru kita dapat melihat sudut pandang yang berbeda di tiap daerah dalam memandang suatu keperawanan seorang gadis. Film ini mengangkat bagaimana suatu adat daerah bisa bertentangan dalam norma umum suatu bangsa yang tetap dijalankan. Pantas mendapatkan acungan jempol.

 

Menonton film ini membuat saya berpikir bahwa sebenarnya Indonesia lebih bagus memproduksi film yang berlatar masa dulu di mana pemerannya masih menggunakan pakaian daerah seperti kebaya. Lebih tepatnya mengambil setting di pedesaan. Menurut saya, feel ke-indonesia-an sangat kentara di tiap film yang berlatar jaman seperti itu. Lagipula banyak ide cerita yang bisa dimunculkan dengan tipikal film seperti ini hanya dengan menceritakan kebiasaan atau adat suatu daerah yang memiliki keunikan masing-masing. Karena pada dasarnya keunikan adalah suatu harta karun yang sudah terlihat jelas, hanya belum bisa diolah dengan baik saja.

 

3 thoughts on “Sang Penari: Ambisi Seorang Penari Ronggeng

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s