Let’s take a break with Hollywood, Bollywood, or Indonesian movie. Kali ini saya akan mengajak anda untuk menikmati salah satu film Thailand yang baru saya tonton minggu lalu. Apa yang anda ketahui tentang film Thailand? Menurut saya negara satu ini lumayan jago dalam hal membuat film horor, sebut saja Nang Nak, Shutter, dan Phobia. Atau masih segar dalam ingatan para anak muda si tampan Mario Maurer dalam ‘Crazy Little Thing Called Love’? Ya, tak bisa dipungkiri bahwa eksistensi film Thailand mulai kelihatan.

 

Film yang rilis pada tahun 2010 ini cukup menarik perhatian karena merupakan film pertama yang mengangkat kisah percintaan sejenis di Thailand. Sarasawadee Wongsompetch, sang sutradara, dengan apik menunjukkan pada penonton bahwa cinta seperti ini tidak selalu salah dan dapat dimengerti. Karena pada dasarnya tidak ada yang salah dalam mengasihi seseorang. Film ini dibintangi olah para bintang muda nan cantik seperti Arisara Tongborisuth, Soranut Yupanun, Sucharat Manaying, dan Supanart Jittaleela.

 

Seperti yang sudah disebutkan, ‘Yes Or No’ termasuk film yang mengangkat isu yang tidak biasa untuk taraf Asia. Bercerita tentang kehidupan mahasiswa yang tinggal di asrama dengan dua penghuni  dalam satu kamar. Keadaan inilah yang mempertemukan Pie si gadis feminim dengan Kim yang berpenampilan boyish. Awalnya Pie menjauhi Kim karena mengira Kim adalah seorang tom, sebutan untuk anak cewek yang berpenampilan seperti cowok dan memiliki kekasih seorang perempuan. Namun seiring berjalannya waktu, semua pandangan itu berbalik 180 derajat.

 

Seperti kata pepatah, batas antara cinta dan benci sangat tipis, hal itu juga dialami oleh Pie dan Kim. Keduanya terlibat cinta sejenis. Banyak kejadian yang menyebabkan hati kedua pemudi ini semakin dekat satu sama lain hingga tumbuhlah benih-benih cinta yang menyimpang. Pie yang mengetahui bahwa hal ini salah menjadi ragu untuk meneruskan perasaannya yang berbeda terhadap Kim. Berbanding terbalik dengan pasangannya, Kim justru sangat mantap dengan perasaannya itu. Ia sama sekali tidak merasa cintanya terhadap Pie tergolong  tidak wajar. Tom satu ini bahkan berani mengungkapkan hubungan mereka di depan ibu Pie yang sangat tidak suka dengan wanita tipikal Kim.

 

Film ini memang tidak melejit seperti Shutter atau film terkenal Thailand lainnya. Namun saya rasa film berdurasi kurang dari dua jam ini mampu mengubah sudut pandang kita sempit dalam melihat suatu fenomena yang mulai terkuak secara gamblang di masa globalisasi ini. Terkadang pikiran kita kurang terbuka terhadap hal-hal yang memang bententangan dengan norma. Namun bukankah saat ini adalah zaman di mana suatu perbedaan bukanlah hal yang harus dihindari atau bahkan dicemooh lagi?

 

Dunia gay memang masih tabu dibicarakan secara blak-blakan, sebelas duabelas dengan dunia waria. Mungkin inilah yang menjadi motivasi dibuatnya film yang berjudul asli Pu Chai Lulla (Yak Rak Goh Rak Loie) ini. Dengan membawa genre komedi romantis, film ini memberi pesan bahwa kita harus mantap dalam menentukan suatu pilihan dengan mendengarkan apa kata hati nurani walau tak selalu benar.

 

Are you ready to take the risk of your decision, yes or no?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s