Ketika selesai melayani Sekolah Minggu HKBP Yogyakarta, para Guru Sekolah Minggu (GSM) mengadakan perbincangan ringan sebelum memulai evaluasi pada hari itu. Perbincangan kali ini cukup mengusik pikiran saya sehingga membuat saya bertanya-tanya tentang posisi sebuah gereja sah bagi jemaatnya…

Pertanyaan bermula saat ada seorang GSM, Kak Sri,  yang menceritakan tentang kebiasaan temannya yang cukup unik. Temannya mengaku bahwa ia melayani di Gereja X namun jika beribadah di Gereja Y. Ia melayani di Gereja X karena itu adalah gereja di mana ia menjadi jemaat sah dan semua keluarga besarnya beribadah di sana. Lagipula gereja itu juga telah menjadi saksi hidup tumbuh kembangnya. Namun ia sendiri merasa kurang nyaman beribadah di sana dan lebih mendapatkan santapan rohani di Gereja Y. Itulah sebabnya ia hanya melayani tetapi kebutuhan rohaninya terpenuhi di gereja lain.

Lain lagi cerita tentang salah satu teman saya. Ia mengatakan bahwa terkadang tiap minggu ia mengikuti dua kali ibadah di dua gereja yang berbeda. Hal yang aneh menurut saya. Kasusnya sama dengan yang di atas, tapi bedanya di Gereja X ia tidak hanya senang melayani tetapi bergaul juga.

“Kalo siang, aku ke Gereja Y, soalnya kotbahnya masuk (enak didengar). Kalo sore ke Gereja X, soalnya nuansa pemudanya lebih kerasa.” (Rahmat Sinambela, 2010)

Melihat dua pendapat di atas, saya jadi bingung dengan posisi gereja sah dalam beribadah. Saat ini kita bukan anak kecil yang masih disuapi makanan rohani, kita sudah cukup dewasa untuk memilih makanan kita sendiri. Tetapi apakah kita masih harus makan di piring yang sama selama ini?

Di tengah perbincangan ini, saya mendengar jawaban yang cukup bijak dari Inang Hutapea tentang hal tersebut:

“Kalo menurutku, gereja yang sah itu ibarat rumah kita. Kadang kita emang lebih suka makan di rumah orang daripada rumah sendiri, kerasa lebih enak. Tapi ga bisa dipungkiri kita pasti bakal balik ke rumah sendiri soalnya tempat paling nyaman itu ya di situ.”

Singkat, padat, jelas, dan langsung kena. Pernyataan yang menjawab pertanyaan. Itulah pikiran yang tercetus dalam pikiran saya ketika mendengar jawaban sederhana namun masuk akal tersebut. Saya sangat setuju dengan pendapat ini, karena saya sendiri merasa saya sangat nyaman di rumah sendiri. dalam post ‘Cewek Rumahan terlihat jelas saya adalah home-sweet-home girl. A church as a home? I totally agree…

Saya jadi teringat pepatah yang berkata rumput tetangga terlihat lebih hijau. Itulah kenyataannya: kita melihat yang lain selalu lebih dari milik kita sendiri. Tapi apakah dalam hal beribadah hal ini berlaku?

2 thoughts on “A Church As A Home

  1. Menarik sekali membaca tulisannya…^_^ Saya sendiri pun setuju dgn pendapat Inang Hutapea. Oya, ingin menambahkan juga, menurutku ber-gereja itu adalah panggilan Tuhan kepada umatNya. DIA yg memilih kita bukan kita yg memilih DIA. Trus, masalah “enak nggak enak, bertumbuh atau tidak” itu bergantung kepada pemahamannya ttg “IBADAH”. FIRMAN TUHAN itu cukup kok…Nah, tinggal kita nya. kalo merasa tidak enak, yah…lakukan lah perbaikan demi pertumbuhan iman jemaat.

    Oya, sekalian bertanya, saya baru saja pindah dr Jakarta, krn urusan pekerjaan. hmm…saya ingin melayani di sekolah minggu. kira-kira apakah Yanti punya saran? bagaimana jika ingin melayani di GSM HKBP Yogyakarta? trima kasih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s