Kalau boleh jujur, saya sudah bosan melajang. Tapi bukan berarti ngebet pacaran juga sih. Bukannya tidak ada cowok yang mendekati, namun saya sendiri merasa tidak ada waktu untuk hal ini. Selama masa kuliah ini, waktu saya tersita untuk kegiatan akademik dan organisasi. Saking sibuknya, saya sampai tidak ada waktu untuk diri sendiri. Setiap kali bercermin, yang terlihat adalah wajah seorang gadis yang lusuh. Tapi kalau saya punya pacar, kasihan dia, bakal saya cuekin saking sibuknya.

Kemarin saya dengar kabar cowok yang dulu pernah deketin saya lagi dekat sama cewek lain. Bukannya cemburu, tapi saya penasaran, apakah cewek itu lebih cantik atau gimana dibandingkan saya. Saking penasaran, saya bertanya sama teman yang dekat dengannya. Hasilnya, dia pikir saya cemburu. Kalau iya, toh, keadaan sudah berubah.

Tiba-tiba saya kepikiran alasan saya belum punya pacar. Selain sibuk, niatnya juga serius. Mungkin itu yang bikin saya belum punya pacar sekarang. Istilahnya, terlalu memilih. Padahal tidak juga, memang saya terlalu sibuk saja. Bahkan untuk membalas SMS pun, saya tidak sempat. Karena merasa dicuekin, cowok-cowok pun pada mundur. Tuh kan, baru itu saja sudah keok mereka..

Berbicara soal pemilih, saya jadi teringat kata-kata temannya sahabat saya. Dia bilang kalau orang yang terlalu memilih pacar itu ibarat menunggu bus. Bus pertama yang datang tidak mau dinaiki karena tidak ada AC. Bus kedua juga dilewati karena sudah penuh penumpang. Bus ketiga pun dibiarkannya lewat karena sudah jelek. Karena terlalu lama menunggu, ia sadar kalau waktunya sudah mepet untuk sampai tempat tujuan dan pada akhirnya memutuskan naik bus yang datang. Entah itu bus lebih buruk atau bagaimana, asalkan sampai tujuan. Tak hanya itu, ia juga menyesal karena banyak waktu yang terbuang percuma karena menunggu.

Analogi yang menarik. Di saat banyak lawan jenis yang mendekati, tidak ada yang digubris. Ketika sudah saatnya ditagih untuk menikah, terbirit-birit mencari calon hingga tak peduli lagi dengan bibit bebet bobot. Amit-amit jangan sampai saya seperti itu!

Sebenarnya, terlalu serius memikirkan dan memilih itu tidak terlalu baik memang. Pertimbangan yang dibuat terkadang justru mengekang kebebasan untuk menikmati. Kalau kebebasan sudah terbatasi, hidup tentuk tidak menarik lagi. Maka dari itu, saya sudah bosan dengan kata-kata “Ya dipikirkan dulu baik-baik. Jangan buru-buru.” Pada dasarnya semua hal yang kita pilih nantinya memiliki sisi baik dan buruk.

Lagipula, bukan berarti kita tidak bisa turun dari bus yang telah dinaiki. Jika sudah merasa tidak nyaman di dalamnya, turun saja. Tak perlu memaksakan diri hingga harus sampai tujuan hanya dengan satu bus. Justru nanti batin tersiksa sendiri dengan keadaan tersebut. Ujungnya, sampai tempat tujuan tidak senang. Padahal secara logika, bila sudah mencapai tujuan, kelegaan didapat. Tapi kalau kita tetap memaksakan diri untuk menunggu bus terbaik, kapan kita mau sampai?

Don’t think too much, it’s not your part. The decision you’ve made can be changed, don’t worry. We still have many times, just enjoy. Take the chance, it’s precious. So, have your bus already came?

 


 

4 thoughts on “analogi bus

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s