kemarin saya baru nonton film ‘The Artist’ (2011), tiba-tiba teringat film ‘Battleship Potenkim’ yang saya tonton saat mengukuti kelas KAjian Film semester lalu. ada kesamaan pada dua film ini: sarat dengan kebisuan dan subtitlenya satu layar penuh. sekilas ini lah tentang ‘BAttleship Potenkim’…

 

Battleship Potenkim adalah sebuah film bisu yang dibuat pada Oktober 1905. Titik awal pengembangan ‘bahasa film’ dimulai dari sini. Film yang dibuat alam rangka Perayaan Revolusi Rusia ini dibiayai seluruhnya oleh pemerintah. Karena hal ini, tak heran bila film ini mengandung unsur politik, lebih tepatnya sebagai sarana propaganda.

Film ini terdiri dari lima bagian yang saling berhubungan dengan tema yang berbeda. Pada intinya berkisah tentang kehidupan di kapal yang bernama “Potenkim”. Film yang berdurasi lebih dari satu jam ini memakai para awak kapal sebagai pemeran utama. Para awak kapal ini melakukan pemberontakan terhadap atasannya karena perlakukan yang tidak adil. Bagian awal bercerita tentang perlakuan tidak adil dengan memberika daging yang sudah banyak belatung pada awak kapal. Cukup menjijikan. Lalu muncul ide-ide pemberontakan yang dicetuskan oleh salah satu awak. Saat upacara, rencana pemberontakan yang telah disusun pun dilaksanakan. Target berhasil dibunuh, namun ada juga awak yang mati tertembak. Hal ini ternyata juga memicu pemberontakan di kota. Mereka menganggap awak tersebut mati karena membela keadilan. Padahal menurut saya sendiri, ia mati karena ceroboh tidak waspada dengan sekitarnya sehingga bisa tertembak. Di mana letak membela keadilan? Terlalu berlebihan bila dia dikatakan seperti itu. Lagipula semua awak kapal memang menginginkan keadilan, baik yang hidup maupun mati, makanya terjadi pemberontakan.

Menurut saya, bagian yang paling menarik adalah ketika ketika ada anak kecil yang terinjak-injak karena terlepas dari pegangan tangan ibunya dan terjatuh kemudian. Raut muka ibunya yang melihat anaknya terinjak-injak oleh banyak orang yang berlarian sangat ekspresif. Ketika anaknya kesakitan, ibunya menghampiri dan menggendongnya dengan posisi yang tidak wajar, menurut saya. Bila digendong dengan posisi begitu, apa si anak tidak tambah kesakitan? Walaupun sekarat, logikanya anak tetap akan kesakitan bika dibegitukan. Berbeda lagi jika anak itu sudah mati. Tapi saya juga tidak menyalah kan si ibu, karena siapa tahu budaya menggendong di sana memang seperti itu atau si ibu yang saking terburu-burunya naik ke atas sehingga tidak memperhatikan cara menggendongnya.

Mengambil sudut pandang lain, sang ibu memang terlihat sangat mencintai anaknya. Saat yang lain melarikan diri, ia justru dengan berani mendatangi para prajurit ke atas untuk protes. Yah, walaupun pada akhirnya ia mati ditembak, tetap saja tindakan yang ia lakukan cukup berani pada masa itu. Menghadapi para prajurit yang membawa senjata dan bisa menembaknya kapan saja. Untung si ibu sempat mengeluarkan kemarahannya sehingga paling tidak dia mati tidak dengan sia-sia, memendam kekesalan maksud saya.

Bagian dalam film ini yang juga menarik adalah subtitle yang berbeda. Film ini menggunakan satu layar penuh untuk subtitle. Tentu saja ini memakan durasi film. Namun justru saya suka karena gambar jadi terlihat semua tanpa ada yang tertutupi. Kalau film masa kini, subtitle terletak di bawah sehingga gambar tidak terlihat seluruhnya dan tulisan juga kecil. Subtitle dengan bagian tersendiri ini cukup bagus karena tulisannya juga besar dan tidak terlalu cepat sehingga bisa dibaca. Awalnya memang bingung dengan tokoh yang hanya berbicara tanpa bisa mengerti maksudnya. Tapi justru di situ letak menariknya. Kita jadi fokus memperhatikan ekspresi wajah tokoh tanpa perlu terbagi konsentrasi dengan membaca subtitle yang biasanya ada di bawahnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s