Kali ini  saya akan membahas tentang sebuah novel yang diangkat dari sebuah film yang berjudul sama. Jujur, sebenarnya saya sangat ingin menonton filmnya di bioskop karena artis idola saya (Albert Halim) menjadi salah satu pemerannya. Namun apa daya, belum sempat menonton, film sudah tidak tayang. Kurang mendapat apresiasi mungkin. Biasa, orang Indonesia terkadang agak malas untuk diajak serius dalam hal menonton…

Karena itu, sambil menunggu film bajakan keluar (hehehe), pemuasan hasrat lewat media cetaknya pun boleh lah… Berhubung teman saya Tia punya, jadi deh saya pinjam dan buatkan sedikit review-nya untuk anda semua. Mumpung lagi selo nih. Btw inti cerita ini adalah tentang LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, Transeksual/Transgender). Buku ini merupakan kumpulan 10 cerpen yang disutradarai oleh 10 orang juga. Okay, let’s  touch down!

 

SANUBARI JAKARTA (kumpulan cerpen)

Tahun terbit: April 2012
Pengarang:  Laila ‘lele’ Nurazizah
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta

 

Sanubari #1: ½ (G)

Kisah pertama bercerita tentang seorang Abi  yang mendongengkan dirinya yang menyukai seorang laki-laki, Biyan. Ia membayangkan Biyan senang ketika bersama Anna karena dia merah. Sedangkan Biyan bosan dengan Abi karena dia biru. Hal inilah yang membuat Abi menjadi ½ dirinya dan ½ Anna. Ya, Biyan menyukai Anna. Tapi mengapa Abi justru menjadi marah, padahal Anna melakukan semua yang ia suruh. Demi Biyan, tentu saja.

Penuturan yang menarik, membuat pembaca penasaran dengan pemikiran Abi. Apalagi perumpaan yang berbeda namun tetap dapat ditangkap dengan jelas. Biru dan merah. Laki-laki dan perempuan. Kedua warna yang menjadi simbol gender. Namun tetap saja, dua warna yang jelas berbeda. Mengapa harus memaksakan menggabungkan keduanya dengan mengambil  ½ dari masing-masing? Karena, pada dasarnya, menjadi ½ itu menyakitkan…

Dongeng ini aneh. Sudah dibilang jangan bertanya tentang keanehan. Ini hanya sebuah dongeng tentang laki-laki bernama Abi, yang selalu memakai kacamata tiga dimensi, yang menginginkan sejenis dia bernama Biyan. Tapi membagi diri bernama Anna. Yang membagi dunia menjadi warna merah dan biru. Yang membagi agar bisa memilih. Karena hidup adalah pilihan?

 

Sanubari #2: MALAM INI AKU CANTIK (T)

Seorang laki-laki yang berjuang mencari nafkah dengan menjadi cantik pada malam hari. Banci, itulah dirinya dalam bahasa keseharian. Cerpen yang menceritakan bagaimana perjuangannya menahan sakit secara fisik dan batin agar dapat mengrimkan uang kepada keluarganya di kampung. Paling tidak, ia menyenangi dirnya yang cantik pada malam hari. Itu saja cukup.

… Mungkin cantikku memang topeng, tapi cinta ini masih murni, layaknya cinta suami pada istrinya. Kasih sayang ini masih terjaga, layaknya bapak pada buah hatinya.

 

Sanubari #3: LUMBA-LUMBA (B)

Dalam hubungan suami-istri, ternyata tak selalu cinta yang diberikan kepada yang berbeda jenis. Walau terikat, tak berarti hasrat yang diberikan timbal-balik satu sama lain. Sang istri bisa menyayangi perempuan lain dan sang suami bisa memikirkan laki-laki lain di otaknya sebagai kekasih. Seperti Anggya yang menyayangi Miss Adinda dan Aga yang menyukai Adrian. Walaupun Anggya dan Aga telah memiliki Alisha sebagai buah hati mereka.

Mereka memang lumba-lumba. Adakah yang aneh? Tidak ada. Yang aneh hanyalah mereka sama-sama menyukai jenis yang sama tapi menyerah dan tetap berhubungan dengan jenis yang beda. Komplikasi…

 

Sanubari #4: TERHUBUNG (L)

Teratur, diatur dan sudah lama ada yang mengatur. Aturan jadi makanan pokok yang yak beralasan. Saya lupa kalau manusia punya kata bernama hak karena selama ini hanya berteman dengan kewajiban. Memang apa itu hak?

Dua perempuan yang mengalami rutinitas yang sama dengan keadaan yang berbeda. Kartika yang selalu mengikuti apa yang seharusnya ia lakukan sebagai tunangan Radit dan anak yang baik bagi kedua orangtuanya. Melakukan apa yang orang inginkan, bukan yang dia inginkan. Terkungkung dalam lingkaran kewajiban tanpa celah yang disebut hak. Sementara, Agata yang hidup ‘semau gue’ tanpa malu mengakui bahwa dirinya seorang lesbian. Status yang membuatnya selalu terlunta-lunta dalam hal cinta. Apa yang membuat mereka terhubung? Pertemuan di toko bra, tempat di mana keduanya memakai benda yang sama.

Bukannya saya takut bermain api, tapi dari dulu saya sudah dijauhkan dari api.

 

Sanubari #5: KENTANG (G)

Tapi ternyata rindu itu masih ada, hanya menunggu untuk diperjuangkan.

Sepasang homoseksual yang mengalami beberapa gangguan kecil ketika melepas rindu. Gangguan yang memicu terjadinya pertengkaran besar. Ada yang bilang, rindu mengalahkan segalanya, termasuk ego. Namun tak selalu. Acel dan Drajat akhirnya menyerah pada ego. Tiga pemicu pertengkaran (orang tua, skripsi, dan kosan) membuat rasa rindu terkubur dalam-dalam, enggan untuk keluar lagi.

Tapi pasangan itu sudah tidak lagi saling melepas rindu, padahal rindu masih ingin dilepas, tapi rindu sudah terlanjur terhempas memang belum jadi ampas, tapi bisa saja sudah terbang menjadi ringan bagai kapas.

 

Sanubari #6: MENUNGGU WARNA (G)

Berkisah tentang khayalan seorang lelaki yang memimpikan happy ending love story dengan lelaki yang berada di depan matanya ketika menunggu lampu lalu lintas berwarna hijau. Harapan tak berujung yang ia ciptakan dalam pikiran kecilnya membuat lampu merah enggan bergantian dengan warna lain. Ya, pada akhirnya ia sadar bahwa khayalannya tak akan menjadi kenyataan secepat pergantian warna pada lampu lalu lintas, bahkan tak  mungkin. Namun bukan berarti harapan itu hilang…

Sadarkah bahwa dongeng saya ini tak akan hijau. Kisah dongeng minoritas mana ada semulus ini. Dan memang tak ada hubungan seperti ini yang berjalan mulus, kan. Jangan terjebak pada warna. Tapi bukannya kita masih bisa menunggu warna?

 

Sanubari #7: PEMBALUT (L)

“Bi, sumpah untuk yang ini aku gak punya kuasa buat bilang nggak Bi. Kalau aku bisa nolak sesuka aku, aku juga mau Bi, kayak datang bulan Bi, kamu toh gak punya kuasa buat minta dia untuk ga dateng kan?”

Dua perempuan lesbian berselisih paham karena mereka tidak bisa bermesraan karena keduanya sedang datang bulan. Alibi yang sempurna. Kemarahan Bianca lebih karena Theresia akan mengakhiri masa lajangnya dengan seorang lelaki, bukan jenisnya. Namun ternyata Bianca sama saja para lelaki yang ia sebut bajingan, sama-sama suka bermain.

 

Sanubari #8: TOPENG SRIKANDI (T)

Seorang wanita, bernama Srikandi, memperjuangkan haknya sebagai seorang wanita yang tidak diterima di dunia kerja dengan menjadi seorang laki-laki. Dengan wujud begitu, ia berhasil mencapai puncak tertinggi. Tujuan utamanya adalah membuktikan bahwa wanita yang hanya dipandang sebelah mata oleh para lelaki itu justru yang memimpin mereka sekarang. Tinggal menunggu waktu yang tepat untuk melepas topengnya.

Semua suara itu terdengar tanpa perlu memperlihatkan wujudnya. Melayang di kepala Srikandi malam itu. Dan asap rokoknya yang mengepul  terbang di antara cahaya malam, seakan mengeluarkan semua yang ada. Semuanya akan selesai sebentar lagi. Topeng itu akan dibukanya besok. Topeng itu akan dibukanya untuk memperlihatkan siapa dia sebenarnya. Perempuan yang pernah terusir dari tempat duduknya. Ya semua akan selesai sebentar lagi.

 

Sanubari #9: UNTUK A (T)

Ketika kita berubah, hal kedua yang paling kita butuhkan setelah niat adalah pendukung yang setia. Kisah ini tentang seorang Arina yang berubah menjadi Ari dengan dukungan dari tantenya yang meerima dia apa adanya. Tante yang menemaninya melalui masa-masa yang A anggap tidak mudah. Semua itu tertuang dalam surat untuk A.

“A, pada akhirnya kamu memutuskan untuk menanam apa yang memang seharusnya tertanam. Dan kamu menemukan teman A. Kamu pun tidak pernah lupa bagaimana menemukan dia yang senasib denganmu bukan A? Kerena menemukan teman teman berbagi
yang merasakan hal yang sama buatmu adalah anugrah. Dan merasakan apa yang sangat ingin kamu rasakan, itu lebih dari sekedar hadiah.”

 

Sanubari #10: KOTAK COKELAT (T)

Cinta itu memaafkan dan sepaket dengan menerima.

Kisah tentang dua sejoli yang tengah memadu kasih bernama Mia dan Ruben. Namun tanpa Ruben sadari, mereka telah saling kenal satu sama lain, dengan wujud Mia yang berbeda. Kotak cokelat yang selalu disimpan Mia, kembali membuka kenangan itu. mia yang semasa kecil selau dicaci sebagai ‘banci’ oleh Ruben, kini menjadi orang yang dicintainya. Lalu apakah Mia telah memaafkan perlakuan kasar Ruben kecil dan Ruben tetap menerima diri Mia yang sekarang?

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s