Minggu (03/06) malam setelah ibadah, saya dan saudara pergi untuk membeli sepatu di toko yang berada di daerah Seturan. Baru sampai di perempatan daerah SMA Bopkri 1, motor yang kami naiki tiba-tiba mati karena kehabisan bensin. Akhirnya kami pun menepi. Saat akan mencari penjualan bensin eceran, seorang lelaki separuh baya menggunakan kursi roda menghampiri dan menawarkan untuk mengambilkan bensin. Selama dia pergi, kami berprasangka buruk padanya. Berpikir bahwa dia akan meminta uang lebih atau hanya menipu. Namun ternyata dia kembali dengan membawa sebotol bensin dan hanya meminta uang untuk membayar bensin. Setelah saudara saya memberikan uang, dia langsung pergi untuk membayar ke penjual bensin tanpa basa-basi. Kami pun melanjutkan perjalanan…

 

Mungkin istilah ‘malaikat tanpa sayap’ sudah biasa kita dengar. Bahkan, kalau tidak salah, ada film nasional yang berjudul sama. Ungkapan ini ditujukan untuk orang-orang baik hati yang diibaratkan malaikat karena kebaikannya yang terkadang tidak masuk akal. Karena malaikat digambarkan memiliki sayap, maka anggota badan satu itu dihilangkan agar sense of human body terlihat. Malaikat memang identik dengan kebaikan karena ia adalah utusan Tuhan yang notabene baik terhadap semua orang tanpa memilih-milih.

 

Namun, melihat pengalaman di atas, saya ingin membuat saya berpikir: mengapa orang yang baik hati kebanyakan identik dengan istilah tersebut? Mengapa harus sayap yang hilang? Ah, saya tahu. Mungkin kebanyakan orang berpikir orang yang baik hati itu sebenarnya malaikat, namun karena tidak memiliki sayap maka ia tinggal di bumi. Seperti itukah? Atau mungkin, karena sayap itu di bagian atas tubuh, maka lebih sering diperhatikan. Pantas saja selama ini orang miskin jarang dilirik. Tentu saja, mereka berada di bagian bawah dalam hal prioritas pemerintah. Wajar bila mereka semakin terpuruk, diperhatikan saja tidak. Jadi pada intinya, orang malas melihat ke bawah, cukup bagian atas saja. Malas menunduk. Benarkah?

 

Lalu bagaimana dengan malaikat tanpa kaki yang saya temui? Mungkin ini berlebihan, namun saya menganggap lelak tersebut adalah malaikat, karena menolong kami yang bahkan tidak ia kenal sama sekali. Saya tidak tahu secara jelas apakah ia memiliki kaki atau tidak, tapi yang pasti ia tidak bisa berjalan sehingga harus memakai kursi roda. Yang jelas, ia menolong kami di saat orang-orang yang di sekitar kami hanya berjalan terus tanpa memerdulikan kami. Saya tidak habis pikir, ada orang sebaik itu. his body is not perfect, but his heart is, just like an angel.

 

Sepintas saya berpikir: malaikat yang tanpa sayap membuatnya tidak bisa terbang ke langit. Sedangkan malaikat yang tanpa kaki membuatnya menjadi sulit untuk berpijak di bumi. Malaikat tanpa sayap menolong manusia di bumi dengan menemaninya menapaki jalan kehidupan yang berat. Malaikat tanpa kaki menahan manusia tidak bermoral yang terlalu rakus hingga ingin mencapai langit, padahal manusia jatahnya di bumi. Iya kah?

 

Some angels don’t have wings or legs, that’s why they’re  put around us by God. But basicly all they need to have is a big-heart, don’t they?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s