“At the moment when you’re about to lose the person you love most in life, you’ll realize that she/he is the one.”

-Proposal Daisakusen (2008)

 

Beberapa bulan lalu, saya menonton sebuah drama Jepang yang berjudul Proposal Daisakusen. Drama ini bercerita tentang penyesalan seorang Iwase Ken yang menyadari bahwa perempuan yang ia cintai, Yoshida Rei,  ternyata tidak akan menghabiskan sisa hidup bersamanya. Rei justru akan menikah dengan guru training mereka semasa SMA. Penyesalan semakin bertambah saat Ken menyadari bahwa saat bersama-sama dulu Ken selalu membuat sedih Rei karena ketidakpekaannya, yang terlihat melalui foto-foto yang mereka ambil saat bersama teman-teman.

But, there’s always a miracle. Ken diberi kesempatan oleh “penunggu” gereja untuk kembali ke masa-masa di mana ia membuat Rei cemberut yang diabadikan lewat foto. Untuk membuatnya menjadi tersenyum, tentu. Seiring bergantinya foto –sekarang disebut ‘selayang pandang’– Ken bolak-balik ke masa lalu dan memperbaiki kesalahannya. Hingga akhirnya foto-foto yang sebelumnya penuh dengan mimik muka Rei yang sedih berubah menjadi senyum bahagia.

It’s not that easy to make all we want comes true. Ternyata, walau sudah menjadikan mimik Rei ceria pada foto terakhir, tetap bukan Ken yang menjadi pengantin laki-laki. Lalu apa yang dilakukan Ken? Mengubah masa kini. Ya, dia mengatakan bahwa ia menyukai Rei. Di pesta pernikahan Rei. Agak gila memang. Namun itu berhasil mengubah masa depannya dan bersatu dengan Rei. Yah, itulah sekilas ringkasan tentang drama ini.

Sedikit renungan, ternyata kembali ke masa lalu tidak selalu dapat mengubah masa depan sesuai dengan impian. Masa lalu adalah pelajaran oleh Tuhan, masa kini adalah pekerjaan dari Tuhan, masa depan adalah permintaan untuk Tuhan. Kutipan di atas adalah imbas dari tidak menghargai pelajaran yang diberikan oleh Tuhan. Hal itu menyebabkan pekerjaan yang harus dilakukan selanjutnya berlipat ganda beratnya untuk memperbaiki menjadi lebih baik. Pada akhirnya, manusia hanya bisa meminta kepada Tuhan untuk mempermudah pekerjaannya dan berjanji –entah mengapa manusia suka sekali melakukan hal satu ini bila kepepet– akan memperhatikan pelajaran dengan baik dan benar. Kurang lebih, seperti anak sekolah yang mendapat nilai jelek di rapor dan takut dimarahi orangtua. Hahaha ironi tetapi nyata.

 

We can’t change the past, but fix the present. The past gave us memories, but the present gives chances. Don’t let the past blocks the present’s way, even it’s too lamentable to be left. Just go forward. Because we don’t wanna loose our chances, right?

ken proposed marriage to rei

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s