“Saya ga pernah dengar Mama Yanti cerita tentang Yanti, selalu kakaknya yang diceritakan. Kalo bapak malah Yanti banget. Saya tahu dari waktu sidi dulu, Yanti lebih dekat sama bapaknya.”
-Pdt. Mery K Pakpahan, S. Th (2012)

 

Well, tadi sore ada sermon Sekolah Minggu. Tema yang dibahas adalah Esau dan Yakub, di mana Ribka sang ibu lebih kasih kepada Yakub. Intinya, tentang anak kesayangan. Menurut pendeta saya, anak laki-laki cenderung lebih dekat dengan ibunya. Dan sebaliknya untuk anak perempuan, lebih akrab sama bapak. Tapi tidak secara melulu juga sih, biasanya.

Kalau di keluarga, saya jelas bukan anak kesayangan. Malah bisa dibilang yang paling tidak diperhatikan adalah saya. Tapi gapapa, saya malah senang hehe. Entah, mungkin karena memang saya tipikal orang yang tidak ingin terlalu diperhatikan. Yang penting kebutuhan saya dipenuhi.

Jujur, saya kaget sendiri mendengar pendapat pendeta saya tersebut. Keliatan banget Mama tidak terlalu concern sama saya. Tapi ya ga mungkin juga kalo saya langsung angguk-angguk. “Mungkin karena saya lebih sering menghabiskan waktu sama Bapak, jadi lebih dekat. Terbiasa brainstroming, jadi sepikiran gitu. Kalau Mama kan sibuk, ga sempat ngobrol-ngobrol.” Yah, itu pembelaan saya.

Tapi dipikir-pikir, memang yang selalu ada di samping saya adalah Bapak. Waktu masa-masa Ujian, entah UAS atau ujian masuk perguruan tinggi, selalu Bapak yang mengantar. Tiap ambil rapot juga beliau yang turun tangan. Ngurusin semua-mua yang ribet, selalu sama Bapak. Yang selalu tanya gimana keadaan saya, ya Bapak.

Yang paling nyata kalau Bapak peduli sama saya adalah saat pemilihan konsentrasi kuliah. Bapak adalah orang pertama di keluarga yang saya kasih tau pilihan saya. Dia cuma tanya kenapa saya pilih itu. Saya cuma bilang kalo saya emang ga punya bakat dan passion ke sana. Beliau bilang “Ya sudah, asal kamu baik-baik belajar, ya.” Sangat berbanding terbalik dengan Mama yang malah marah-marah, nyuruh saya KRS ulang dan mengganti pilihan saya.

Banyak yang bilang saya mirip sama Bapak. Entah mengapa, mereka tidak melihat sisi Mama dalam diri saya. Jadi istilahnya ‘like father like daughter’ haha. Tapi memang itu benar, saya memang mengagumi Bapak saya. Beliau adalah figur ayah yang sangat saya dambakan. Baik hati, tidak main tangan sama anak, mudah memaafkan. Semoga suami saya juga seperti itu kelak. Amin!

Indeed, I love my father. He receives me the way I am. He doesn’t ask too much or pushs me for what he wants me to be. Even he’s a high-tempered, he never takes a long time to forget my faults. He respects my decisions, although he dislikes.

Father, so sorry for hurting your heart through my curlish behaviours or words. Someday I’ll make you proud for having daughter like me. Because I’m so proud of you, my best man. Just wait patiently. Till that time, all you can do just stay healthy🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s