Hari ini, saya baru ketemuan sama teman-teman SMP: Sola, Rubetta, Yonis, Cahyo, Bayu, dan Yosua. Sola ini teman saya dari SD. Gatau kenapa tiba-tiba malam ini keingat sama masa kelam jaman itu. Masa-masa SD saya itu ga semenyenangkan kebanyakan orang lho. Saya ini korban bullying. Tau kan bullying itu apa? Ya, kekerasan yang dilakukan seseorang/kelompok ke orang lain baik secara verbal maupun fisik.

Pas kelas 5 SD, kalo ga salah, saya dijauhi sama anak-anak cewek. Gatau kenapa, katanya si saya itu bossy. Yaudah deh, saya ga punya teman. Ga ada yang ajak ngobrol, ke mana-mana sendiri, duduk sama anak ”buangan”. Sedih ya. Tapi, somehow, tiba-tiba mereka temenan lagi sama saya dan berlagak ga pernah terjadi apa-apa. Ngajak ngobrol, ngajak maen. Aneh, kan?

Sebenarnya sempet bingung juga, kok bisa ya ada kejadian seperti itu, padahal dulu ga pernah. Ternyata penyebabnya adalah gara-gara seorang cewek yang ga naik kelas. Sebut saja N. Sejak ada N, muncullah tradisi laknat ini. Kenapa tradisi? Karena setelah saya yang menjadi korban, satu per satu anak cewek juga mendapat perlakuan yang sama seperti saya, dijauhi. Dengan berbagai alasan yang menurut saya sampah banget! Dan sampailah tradisi ini pada si N. Nah, kena juga deh dia. Tapi ya ampun, waktu dia kena, sumpah muka dia selalu innocent gitu. Kayak ga ada dosa. Bloody hell!

Balik lagi ke kisah bullying saya. Waktu menghadapi cobaan tersebut (bah!), ada dua temen saya yang tetep setia dekat saya, V dan T. Tapi ga selalu juga sih. Kadang V termakan bujukan setan-setan cewek kelas untuk ikut ngejauhin saya. Trus T tahu dan ngasih tau kalo V mulai aneh tingkahnya. Yaah, saya mau bilang apa, akhirnya saya main sama T doang. Tapi ga lama kemudian V mulai deket lagi sama saya, ga kemakan bujukan para setan itu. Kadang T yang kemakan bujukan setan, tapi lagi-lagi mereka balik ke saya. Saya sampe bingung sendiri, mereka ini mau berkhianat kok setengah-setengah sih?

Semenjak itu, saya muak sama teman-teman cewek SD. Saya cuma main sama cowok aja selama itu. Ya mau gimana lagi? It pretty sure damn hurted me. Saya ga terlalu menggubris mereka lagi. Paling cuma ngobrol basa-basi. Sampe-sampe saya mainnya sama teman beda kelas, Sola sama Melina. Saya benci banget sama mereka, pengen rasanya kalo ketemu mereka, saya jambakin satu-satu trus bilang: “Hey you bitches! Belagu banget si! Padahal otakmu ga ada setengah otakku! Kan pada bego lo semua. Mana bisa nandingin gw! XXXXXXX (nama-nama semua penghuni kebun binatang)!!!!”

Tapi tau apa yang terjadi? Sejak masuk SMP, saya tiba-tiba lupa sama masa kelam itu. saya senang-senang aja di SMP. FYI, sekolah saya di sekolah negeri terbaik di kota sementara mereka di swasta yang notabene satu yayasan dengan SD (sudah saya bilang mereka itu ga punya otak, jadi pasti ga mau nyoba negeri. Soalnya tau ga bakal keterima). Saya bersyukur tidak satu sekolah lagi dengan mereka.

But, somehow, I forgave them. Saya melupakan semua kejahatan yang telah mereka lakukan sama saya. Corat-coret buku saya. Ngambil buku pribadi saya. Ga mau satu kelompok sama saya. Ngatain saya. Nganggap saya kasat mata. Semuanya. Saya memaafkan mereka. Saya gatau dari mana datangnya perasaan yang menurut saya ga mungkin dimiliki oleh rang seperti saya. Istilah untuk sikap memaafkan tanpa diminta apa ya? Saya gatau, yang pasti saya sudah melakukan hal tersebut. Mereka ga minta maaf sama sekali. Mereka tahu pernah melakukan hal jahat sama saya tapi cuma bilang: “Dulu yang punya rencana XXX ke kamu itu si XXX yan. Jahat ya dia.” Ya ampun, saya sedih sekarang kalo inget teman saya ini. Dia ga sadar kalo dia ga salah. Padahal saya inget bener dia juga salah satu dari bully-er.

Let time wash away the pain. Saya gamau saya tumbuh dengan luka masa SD itu. saya menunjukkan bahwa saya baik-baik saja, tidak mendendam dengan mereka, dengan datang ke reuni SD waktu 3 SMP. Jujur, saya sebenarnya agak deg-degan sih, tapi saya memantapkan dan meyakinkan diri: “sudah tidak ada luka, saya telah memaafkan mereka, semua akan baik-baik saja”. Saat hari H, ternyata mereka juga santai-santai saja, pada kangen sama saya, pada meluk saya. Saya juga tersenyum tulus. It’s true that there’s no wound anymore. Bahkan saya nge-add Facebook mereka satu-satu. Biar tetep tau kabar satu sama lain, walaupun mereka gamau tau kabar saya. Gapapa.

 

“you may think your only choices are to swallow your anger or throw it in someone’s face. there’s a 3rd option: you can just let it go. and only when you do that is really gone, then you can move forward.”

-Happily Ever After (HIMYM, Season 4 Ep. 06)     

 

Dan tau apa yang terjadi dengan kisah pertemanan saya selanjutnya? Saya mendapatkan teman-teman yang luar biasa, baik di SMP, SMA, maupun kuliah ini. Saya bersyukur banget bisa merasakan pertemanan yang sesungguhnya. Saya bersyukur sama Tuhan dikasih cobaan yang berat sebelum saya menemukan kebahagiaan yang sesungguhnya. Agak berlebihan sih hehe. Tapi beneran deh, saya jadi tau bagaimana pertemanan yang sesungguhnya dan saya sangat menghargainya.

Look at me now, I’ve already move forward! The wounds that you’ve made to me is gone. But, don’t worry, I’m also not sick to death or your faults anymore.We are friends now, start from zero again. Okay?🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s