mengesampingkan kebenaran

Entah mengapa saya suka sekali kalimat ini. Elegan dan misterius.

 

Hari ini adalah hari pertama kuliah di semester lima (saya sudah angkatan tua huhuhu). Salah satu mata kuliah yang saya ambil adalah Etika Komunikasi. Pada intinya, mata kuliah ini mempelajari tentang berbagai macam etika yang telah ditentukan di bidang komunikasi, contohnya Kode Etik Jurnalistik.

Nah, sampailah pada pembicaraan: bagaimana dengan kode etik PR (humas)? Apakah mereka boleh berbohong di saat perusahaan mengalami krisis untuk tetap membuat citra baik? Apakah mereka boleh berbohong untuk menutupi kebobrokan?

Jujur, saya tidak terlalu tahu tentang bagaimana dunia PR: definisi, ciri-ciri, syarat, tugas, dll. Itu bukan dunia saya dan saya sendiri tidak tertarik. Tapi, ketika mendengar pertanyaan di atas, yang terbesit pertama dalam pikiran saya adalah tugas PR di sini ketika menghadapi keadaan seperti itu adalah mengesampingkan kebenaran.

Maksudnya adalah mereka memang memberitahukan kebenaran, namun tidak fokus pada itu. Mereka lebih mengulas tentang sisi lain yang tentunya memperkuat posisi perusahaan. Kalau dalam persen kira-kira seperti ini: 10% kebenaran, 90% yang lain (solusi, rencana selanjutnya, perkembangan, dll). Jadi mereka tidak salah karena tetap ada kebenaran dan dibeberkan, walaupun hanya sedikit. Kalau sudah begini, tugas PR tidak jauh beda sama dokter. Coba dipikir, ketika dokter akan memberitahukan diagnosa penyakit yang parah pada pasien, mereka memberitahukannya dengan tenang. Tidak sampai dua menit penjelasan tentang penyakit tersebut (kecuali kerluarga pasien yang banyak tanya) dan langsung fokus tentang langkah selanjutnya yang akan diambil. Benar kan?

Tapi apa benar memang begitu? Saya kan tidak tahu apa-apa tentang ini. Yah, namanya juga opini. Kebenaran memang penting, tetapi banyak hal yang lebih penting: menatap masa depan dengan yakin tanpa terganggu dengan hal sudah bisa diatasi🙂

 

ps: Ya ampun, saya sudah benar-benar tua ya. Sekarang saya sudah menjadi ‘angkatan 2008’ ketika saya jadi maba, mahasiswa tahun ketiga. Kurang dari dua tahun lagi saya sudah harus hengkang dari kampus tercinta. Amin!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s