Selamat hari kasih sayang! Cium hangat dari saya untuk anda semua haha lewat dunia maya tentunya. Berhubung hari ini penuh dengan nuansa cinta, saya akan memberikan salah satu review tentang film yang juga berkutat dengan satu benda abstrak pujaan semua umat ini.
Salah satu film berkesan yang saya tonton untuk mengisi liburan ini adalah The Vow (2012). Film ini bercerita tentang seorang suami bernama Leo (Channing Tatum) yang berusaha keras mengembalikan kembali ingatan istrinya Paige (Rachel McAdams) yang hilang saat kecelakaan. Bukan hal yang mudah karena ingatan terakhir yang ada di benak Paige adalah ingatan ketika mereka belum bertemu, saat ia masih tinggal bersama keluarganya. Bahkan Paige lupa apa alasan dia meninggalkan keluarganya dan berhenti dari sekolah hukum.
Keluarga Paige tentu saja merasa diuntungkan dengan keadaan ini, mereka bisa berkumpul lagi bersama putri pertama mereka yang lama menghilang. Sementara Leo nelangsa karena bahkan Paige merasa aneh dengan dirinya yang telah bersuami dan bersekolah di institut seni. Bingung dengan kehidupan seperti apa yang dijalaninya sejak meninggalkan rumah dan penasaran dengan alasannya minggat. Namun Leo tidak menyerah begitu saja, begitu juga dengan Paige yang tidak menutup pintu hati untuk mengetahui kehidupannya lima tahun terakhir.
Film yang dibuat berdasarkan kisah nyata ini memberi banyak nilai kehidupan yang mendalam. Salah satunya tentang bagaimana kita harus mempertahankan apa yang sudah kita miliki. Seperti Leo, yang sudah memiliki kehidupan yang bahagia bersama Paige. Ia berusaha mendapatkannya kembali dengan rela mengulangi masa-masa awal pertemuan mereka, bertemu dengan keluarga Paige yang tidak terlalu menyambutnya dengan tangan terbuka. Walaupun akhirnya ia menyerah, setidaknya ia telah mencoba.
Sifat lain dari Leo yang patut ditiru adalah sifatnya yang berjiwa besar. Sebenarnya bisa saja ia membeberkan alasan Paige minggat dari rumah dan kembali mendapatkan Paige. Cara instan yang menggiurkan. Namun Leo tidak mau. Ibaratnya, ketika pintu sudah tertutup tapi dia tidak mau masuk lewat jendela yang masih terbuka. Soalnya dia tahu itu salah. Ya, terkadang kita manusia memang lebih suka dengan cara instan untuk mendapatkan apa yang kita inginkan walaupun tidak benar. Namun perasaan puas saat kita medapatkan apa yang kita inginkan tentu berbeda bila dengan cara instan dan usaha keras. There’s no substitute for hard work. Lagipula, dalam film ini, Leo merasa Paige senang dengan kehidupannya yang tanpa dia. As long as she’s happy, it’s fine for him. What a man!
Pesan moral lain yang tak kalah mengharukan adalah ketika ibu Paige memaafkan ayah Paige yang berselingkuh. Saat itu, dia memang berniat meninggalkan suaminya. Namun ia teringat bahwa ia memiliki keluarga yang sangat berarti baginya. Ia memilih untuk tetap tinggal dan memaafkan suaminya. Ia memilih untuk memberi kesempatan sekali lagi. Ia memilih untuk melupakan luka hati dan terus menjalani hidup. Bukan keputusan yang mudah. Di saat harus mempertahankan hal yang pernah membuat kamu sakit hati demi orang lain. Sayangnya, justru Paige yang meninggalkan rumah itu.
Pada intinya, saya suka dengan film ini. Film ini tidak membuat penontonnya merasa bosan dan bisa membuat kita ikut menyelami perasaan tokohnya. Oh iya, tentang kesempatan kedua yang diberikan ibu Paige, saya punya sebuah kutipan dari teman lama saya yang cukup baik. Sedikit saya tambahi agar berkesan lebih bijak, beginilah:

“Kesempatan pertama dan kedua itu ada. Tetapi kesempatan ketiga, keempat, kelima, dan seterusnya itu sudah tak ada. Soalnya kalau itu ada terus, maka kesempatan tidaklah lagi berharga.”
-Y

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s