Waktu masih kecil, saya pernah ikut menemani kakak yang sedang berobat ke Rumah Sakit. Kami menunggu di bagian yang dekat dengan ruang Unit Gawat Darurat (UGD). Tiba-tiba datang seorang wanita muda dengan hanya memakai celana pendek ala rumah dan kaos oblong biasa hanya membawa dompet dan HP di tangan. Dia langsung menghampiri suster UGD dan dengan paniknya mondar-mandir sampai mendengar keterangan dari dokter bahwa kerabatnya yang berada di UGD sudah tidak bisa diselamatkan lagi. Jadilah ruangan itu penuh dengan tangis histeris. Kami, pera pengunjung, hanya bisa melongo atau menatap prihatin ke arah mereka. Karena masih kecil, pikiran pertama saya adalah “Ini mbak ga sempat ganti baju dulu apa ya? Kok baju rumah dipake keluar..”

Tak pernah terbayang minggu lalu saya berada di posisi itu. Pagi-pagi, ketika sedeng bermain laptop, di depan rumah ada beberapa orang datang. Saat itu, Uda Wanda, Om saya sedang di rumah, jadi dia yang menemui. Ternyata Mama jatuh di gang kecil. Reflek saya dan Uda ke TKP. Ternyata Mama masih sadar. Karena mau dibawa ke Rumah Sakit, akhirnya saya dan Uda kembali ke rumah untuk mengambil mobil. Tanpa sempat ganti baju. Hanya mengambil dompet dan HP kemudian kembali menghampiri Mama. Ya, saya hanya mengenakan kaos oblong dan celana pendek. Saya mengurus semua urusan masih dengan mengenakan pakaian rumah. Padahal saya mondar-mandir, keluar masuk kawasan Rumah Sakit. Setiap berpapasan dengan orang, mata mereka jelas cukup lama berhenti ke saya. Tapi saya tidak terlalu risih, lebih tepatnya tidak ada waktu buat peduli lagi dengan pandangan mereka.

But, through this insident, I’ve got some life lessons, experiences, and reflexions. Yeah, everything happens for  a reason is a appropriate title for this post.

 

Everything has its first

“Wah, hebat, Tong. Pertama kalinya dong ya ngurusin orang opname. Lumayan tuh” kata sahabat saya, Tyas, waktu jenguk Mama. Haha kepikiran aja ya dia. Like I’ve told, without father’s not in town, I had to take care of my mother at the hospital. Semua-muanya. Pertama kalinya.  Mulai dari masukin ke IGD, ngurusin rawat inap, ngecek ke ruangan opname, dengerin penjelasan dokter gimana keadaan Mama, nungguin kaki Mama di-gips. Bolak-balik ruang IGD, kamar opname, sampai ngurusin piutang asuransi. Ga kehitung udah berapa kali mondar-mandir di lorong rumah sakit. Tanya terus ke suster tentang apa aja. Ya ampun, lumayan lho itu. biasanya, Bapak yang ngurusin semua tetek bengek persyaratan soal opname kalo keluarga kami ada yang harus rawat inap. Ternyata ribet ya, kirain biasa aja..

 

Crying relieves pressure on soul

“Kak Yan, nangis ga waktu Mama kecelakaan?” Pertanyaan sederhana waktu rekan-rekan pelayanan di Sekolah Minggu menjenguk. Kalau boleh jujur, saya tidak terlalu kaget waktu dengar Mama kecelakaan, sudah terbiasa malah. Funny fact, I didn’t cry at all while taking care of her at the hospital. Bahkan saya sempat kesal karena rencana hari itu gagal semua. Setelah selesai mengurusi semua dan Mama sudah aman di kamar opname, akhirnya saya dan Uda kembali ke rumah. Saya mengambil pakaian Mama dan Uda akan pergi meninggalkan Jogja untuk mengurusi pekerjaannya di Sragen. Setelah Uda bersih-bersih, dia kemudian pamit untuk pergi dan berpesan agar saya sabar menhadapi semua ini.

After he left, I went to bathroom then cried. I was crying all alone, couldn’t stop. It’s like, all these feelings of afraid, panic, confused, and tired; are exploded. Yeah, I’m not that strong. At that time, my father’s not in town, my sisters weren’t around which is I couldn’t reach them, I was really think that I’m alone and lonely. I was feeling insecure and scared. Seriously. I’m not a type of girl that can crying in front of people. So I waited till I’m alone then weeping in the locked room.

 

A problem well stated is a problem half solved

“Inang kecelakaan hari Senin, baru kau cerita hari Rabu, Kak? Luar biasa..” Sejujurnya, saya bukanlah tipikal orang yang suka menceritakan masalah yang sedang dialami. Bahkan saat kecelakaan ini, saya baru mengabari Bapak siang harinya. Kakak yang berada di luar kota malah baru tahu malam hari saat kita chat di grup LINE.

I usually state my problem while it’s solved. So I don’t have to answer the classic question: “How’s your problem? Is there any progress? I think you should blah blah blah…” I’m too lazy to answer them. Moreover, other suggestions make me more confused to choose the way of solving my problem. But for this case, I didn’t know why I told this to my trusted friends. Maybe I kinda tired with the responsibilities that I couldn’t handle at this situation and indirectly asked them to tolerate it. But still, I don’t think that Charles F. Kettering’s thought is good at all.

 

Last but not least: get well soon, Mommy..

IMG_20131004_115200

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s