Pantai

Tempat di mana bisa menikmati hamparan pasir yang luas, deburan ombak yang saling berlomba, dan birunya langit yang membentang tanpa ada batas. Tempat di mana pikiran bisa berkeliaran tanpa ada yang menghalangi. Tempat di mana aku bisa berteriak sekencang mungkin tanpa ada yang mendengar dengan jelas apa yang ku ungkapkan (walaupun aku tidak suka melakukan ini). Tempat di mana aku bisa berlari dengan bebas tanpa alas kaki dan itu membuatku merasa seksi terkadang. Tempat di mana segala kebisingan yang terjadi tetap menyisakan keheningan. Tempat di mana aku bisa melamun dengan bebasnya dengan dalih menikmati keindahan yang tersedia di depan mata. Tempat di mana aku bisa meninggalkan jejak kai, secara harfiah, dan meyadari bahwa pada dasarnya semua ada jalannya. Entah itu kita yang membuat, atau kita hanya mengikuti. Terima kasih, pantai. Tanpamu aku tidak akan menyadari bahwa tiga hal (langit, laut, dan daratan) yang berbeda akan menjadi luar biasa indah bila diletakkan dalam bingkai yang sama.

 

Pantai. Siang hari

Tempat ini semakin sempurna bila si bulat kuning menemani. Seakan mengamati, menjulang tinggi di atas hingga akhirnya waktu menyuruhnya turun. Tanpa awan, langit seakan memberi ruang bagiku untuk menggambar ulang di kanvas biru yang tak berbatas. Matahari melimpahkan sinar cerahnya dengan sangat murah hati hingga kulit ini terbakar dan berubah warna menjadi kecoklatan. Pancaran yang mengenai badan ini membuatku ingin mengangkat tangan dan ber-high five dengan angin yang tak pernah absen menemani. Teriknya matahari seakan memberitahuku yang gampang putus asa ini, bahwa panas yang diberikannya ini akan membuat kulitku ini semakin eksotis. Bahwa kesakitan yang dirasakan akan membuahkan hal ndah bila kita mau bertahan. Terima kasih, matahari. Setidaknya, ada bekas yang kau torehkan padaku dan membuatku ingin kembali lagi ke sini untuk bertemu dengamu.

 

Pantai. Siang hari. Suaramu

Adalah hal yang tak mungkin aku pergi ke sini tanpamu. Meskipun aku menikmati suara deburan ombak, tanpa candamu seakan ombak itu mengamuk. Meskipun langit biru membuatku tertegun untuk waktu yang lama, celotehmu yang tanpa henti justru membuat pikiranku semakin menerawang jauh. Meskipun tangan ini terus bermain dengan pasir, ceritamu yang bermacam-macam mengalahkan banyaknya jumlah pasir dalam genggaman. Meskipun kita terdiam dalam hening untuk waktu yang cukup lama hanya untuk memandangi laut yang berulah, gumaman tak penting darimu yang keluar membuatku menyadari bahwa aku memang tidak pernah sendiri. Terima kasih untukmu. Untuk segala seuatu yang keluar dari mulutmu dan membuatku selalu merasa lebih baik setelah mendengarnya.

 

Ayo kita ke pantai!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s