Abang adalah sebutan untuk laki-laki yang lebih tua, saudara atau bukan. Kenal atau tidak. Untuk menghormati. Semakin meluas, kata ‘abang’ sekarang dijadikan sebutan untuk pacar. Setau saya, penggunaan kata ‘abang’ di Jawa dan Sumatera berbeda. Kalau di Jawa, ‘abang’ itu buat tukang bakso. Di Sumatera, justru ‘mas’ yang begitu..

Kali ini, ‘abang’ yang ingin saya bahas adalah abang secara harfiah. Kalau boleh jujur, saya sangat iri sama mereka (para cewek) yang punya abang. Apalagi kalau mereka dekat sekali, duhhhh. Kalau boleh minta sesuatu sama Tuhan, punya abang jelas masuk daftar tiga besar saya. Karena menurut saya, abang adalah seorang laki-laki yang beneran tulus sama kita para cewek, tanpa ambil keuntungan atau maksud tertentu.

Satu hal yang paling saya syukuri dari bergabungnya saya dengan komunitas gereja adalah saya menemukan ‘abang’. Dalam adat, ketika ada perempuan dan laki-laki yang satu marga, maka mereka secara tak langsung adalah kakak/ abang dan adik, atau disebut juga ‘ito’. Maka jadilah saya punya beberapa abang satu marga. Namun ada beberapa dari mereka yang tidak satu marga namun tetap saya anggap sebagai abang. Mereka yang tanpa ragu akan langsung meluncur begitu saya minta bantuan dan saya juga tak segan meminta tolong tanpa takut mereka akan memiliki perasaan khusus. Bahkan hanya untuk mengantar atau bersenda gurau sekalipun. Itulah abang, mereka yang tanpa pamrih akan langsung menolong. mereka yang bisa saya andalkan dalam segala hal.

Selain itu, abang juga mendengarkan masalah kita dan memberikan solusi. Terkadang, karena lebih tua, pengalaman mereka juga lebih banyak sehingga bisa memberi nasehat. Dan merekajuga tanpa malu-malu membeberkan beberapa hal tentang lelaki yang saya sebagai wanita tidak tahu. Entah yang jelek, atau sebaliknya. Karena sifat dan pengalaman mereka berbeda, maka cerita dan petuah yang saya dapatkan pun berbeda. Namun tetap membuka mata saya dan saran dari mereka selalu saya dengarkan, walau terkadang berseberangan dengan pola pikir saya. Berbagi cerita soal apa saja membuat lupa waktu hingga berjam-jam. Tak perlu gengsi untuk bercerita soal perasaan pada mereka. Bahkan memaki atau mengeluarkan kata-kata kotor pun tak perlu malu atau merasa tak enak, sudah biasa. Itulah abang, mereka yang membuat saya nyaman bercerita tanpa perlu menjaga perilaku, mengeluarkan segalanya yang ingin diucapkan tanpa ada yang disensor.

Dua hal di atas, merupakan beberapa hal kecil yang bisa saya jelaskan dari sekian banyak tentang abang. Mungkin mereka tidak selalu seperti apa yang saya inginkan dari seorang abang. Terkadang kita kecewa, terkadang kita marah, terkadang kita tidak puas dengan perilaku mereka yang sama sekali tidak mencerminkan sikap seorang abang sama sekali. Bahkan cenderung anak kecil. Tapi, bagaimanapun, mereka tetap abang saya yang selalu saya banggakan.

Menemukan mereka, membuat saya menyadari bahwa belum tentu abang kandung saya akan seperti mereka. Menemukan mereka , membuat saya menyadari bahwa antar wanita dan pria tidak melulu soal cinta pasangan. Menemukan mereka, membuat saya merasa tak perlu iri dengan mereka yang punya abang kandung. Menemukan mereka, para abang, membuat saya merasa sangat bersyukur kepada Tuhan.

And through this post, I wanna apologize to all my brothers for being a bad sister. Please always be my brothers, you guys know I need you all.🙂

quote-you-don-t-live-in-a-world-all-alone-your-brothers-are-here-too-albert-schweitzer-286663

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s