Halo, sudah (sangat) lama tak bersua!

Hanya ingin mampir sebentar untuk mempertanyakan suatu hal yang sangat mainstream dan membuat saya, sebagai cewek, secara pribadi jijik.

Pertanyaan ini muncul ketika saya sedang melakukan hobi baru: kepo. Istilah yang sudah tak asing di mana ini menjadi kegiatan favorit saya sebelum tidur (duh, ketahuan!). Lebih detail, saya suka kepo lewat media sosial Instagram. Mungkin karena sederhana, hanya foto dan caption, IG menjadi media sosial favorit.

Pada suatu malam ketika sedang asyik kepo, saya menemukan sebuah akun milik seseorang, sebut saja X. Kami tahu satu sama lain, tapi tak secara langsung kenal. Setidaknya, kami pernah mendengar nama satu sama lain terucap lewat mulut orang terdekat. Saat ini dia sudah bekerja di perusahaan yang bagus. Bisa dibilang masa depannya cerah. Tapi jangan salah sangka, saya bercerita tentang dia bukan karena ada rasa atau apapun. Sama sekali tidak. Lagipula, benang merah yang menghubungkan saya dan dia jelas mengindikasikan tak akan ada kisah kasih di antara kami.

Saya melihat secara detail setiap foto yang dia post: gambar, caption, bahkan komentar. Dari awal sampai akhir tanpa melewati satupun (untung fotonya tidak banyak hehehe). Iya, saya separah itu.

Saya memperhatikan, di awal hanya sedikit komentar, bahkan beberapa tidak ada, komen di foto2 tersebut. Kalaupun ada, itu dari kawan sesama jenis alias laki2. Tapi di post2 terbaru, banyak cewek2 (mungkin teman lama atau hanya sekedar kenal) yang komen. Dengan komen yang memuji atau sekedar basa-basi “Wah, keren ya…”, “Kamu di mana sekarang?” Blablabla. Bahkan yg “double tap” pun kaum hawa kebanyakan.

Hal pertama yg muncul di otak: pasti ini cewek2 pengen deketin si X karena dia udah kerja di tempat oke. Ya ampun, segitunya banget? Iya, sampe mikir begitu. Saya memang jahat. Tapi emang gitu kan?

Saya ga habis pikir dengan cewek2 macam mereka yang notabene seumuran dengan saya. Mencoba mendapat perhatian dari orang yang dulu tak pernah terpikirkan. Mencoba menjalin hubungan yang lebih karena tahu bersamanya masa depan terjamin. Emang sih kita udah harus serius dalam suatu hubungan. But not like this…

Memang terkesan naif, tapi saya bukanlah tipe orang yang mau berbalik ke belakang karena takut di depan tak lagi terlihat terang. Apa yg sudah terlewatkan, ya sudah. Memang tidak nasib. Ikhlaskan. Maju saja terus, toh jalan masih panjang. Masih banyak cerita menunggu untuk kita lakoni. Selama masih muda, jangan men-stop takdir semaumu. Tuhan lah sang sutradara, bukan kamu!

image

Nb. Kalau ternyata pemikiran saya ini salah besar, maafkanlah. Memang sisi jahat saya lebih dominan…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s