Ketika dua orang yang sempat saling tertarik kemudian mengambil langkah masing-masing, dengan tidak baik-baik. Salah satu pergi begitu saja tanpa pamit, sebut saja Pengelana. Tidak menghilang namun mengakhiri rasa.

Yang ditinggalkan, merasa maklum. Tidak ambil pusing dengan kisah yang numpang lewat. Melanjutkan hidup, melihat kesempatan lain yang ada. Panggil dia ‘Si Acuh’ yang memang tak pernah mendengarkan peringatan yang sudah diberikan oleh orang-orang terkasih, selalu mengikuti kata hati sendiri.

Pengelana, sesuai dengan namanya, selalu mencari cinta ke mana pun kaki berjalan. Mampir ke banyak hati tanpa pikir panjang, menggoda sana sini.

Kemudian muncul tokoh baru, Pemusik yang berteman baik dengan Pengelana. Bukan masalah besar, jika saja Si Acuh tak jatuh hati padanya. Bermula dari sekedar tahu dan rasa kagum itupun muncul tanpa diminta. Tanpa alasan yang jelas, sosok Pemusik bersemayam di hatinya.

Dengan polosnya, Si Acuh meminta bantuan Pengelana untuk mengenalkannya pada Pemusik. Singkat cerita, Si Acuh pun mendapat respon positif dari Pemusik dan mereka pun saling mengenal.

Waktu pun berlalu menyenangkan. Percakapan sepanjang waktu yang tak pernah putus membuat kupu-kupu terus bermunculan dalam perut Si Acuh ketika mendapat pesan dari Pemusik. Ya, dia kegirangan.

Namun ada satu hal yang terlewat dari akal Si Acuh: ia lupa kalau Pengelana adalah teman Pemusik. Dan tentu saja, tak heran bila Pemusik tahu histori antara Si Acuh dan Pengelana. Kenaifan Si Acuh membuatnya berpikir bahwa kisah sesaat itu tidaklah penting.

Faktanya, ia salah besar. Pemusik sangat menyadari hal tersebut dan sangat menjaga perasaan Pengelana. Si Acuh yang kemudian mengungkapkan isi hatinya harus menelan pil pahit penolakan. Segala pujian yang dilontarkan Pemusik tentang Si Acuh nyatanya tak bisa membuatnya melirik ke dalam hati gadis itu tanpa ada bayang-bayang Pengelana. Penjelasan tentang rasa yang telah lama pudar pun tak membantu sama sekali.

Sinyal cinta yang terus dikirim Si Acuh hanya menjadi selingan bagi Pemusik. Pedih rasanya saat mengetahui bahwa usaha kerasnya hanyalah sia-sia, tak mengubah apapun.

Dan akhirnya, kisah pun selesai begitu saja tanpa klimaks. Semua kembali menjalani kehidupan dengan sewajarnya: Pengelana terus melangkah tanpa beban, Pemusik akan tetap menjadi teman yang setia, dan Si Acuh? Ia belajar bahwa apa yang ditanam, itulah yang dituainya kelak.

image

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s