You reach a point where you realise that in order to get happiness and peace of mind is to accept the pain, left them behind, move on, and forgive.
-Abhishek Tiwari

Di dunia ini, siapa yang tidak pernah merasakan akar kepahitan? Tunggu dulu, emangnya akar kepahitan itu apa? Menurut saya pribadi, akar kepahitan adalah suatu perasaan benci yang sulit dimusnahkan dalam hari sesorang, entah karena amarah maupun kecewa terhadap orang lain.

Akar kepahitan muncul ketika seseorang membuat kita kecewa, marah, sedih, dan terluka. Dan selayaknya luka, ada yang bisa sembuh tanpa berbekas, namun ada juga yang meninggalkan luka hingga membuat kulit terlihat jelek. Semua itu tergantung kedalaman luka dan bagaimana merawatnya.

Kedalaman luka di sini bergantung pada perbuatan yang menyakitkan hati. Saya pernah mendengar sebuah perumpamaan yang bagus tentang hal satu ini. Suatu hari seseorang menancapkan paku ke tembok yang mulus. Tak berapa lama, paku itu dicabut kembali. Paku itu hilang, namun tembok itu tidak mulus lagi.

Ini lah akar kepahitan bermula. Ketika seseorang berbuat salah dan dengan mudahnya meminta maaf. Memang perminta-maafannya telah diterima, namun sakit hati yang terlanjur tertancap tak bisa hilang. Nyatanya, tembok tak bisa mulus lagi. Mau ditambal? Mempercantik namun tidak mengembalikan. Pasti akan ada yang membedakannya.

Yang paling menyedihkan, akar kepahitan seringkali dibuat oleh orang tersayang. Mereka yang ada di dekat kita justru penyebab dari dalamnya luka. Baik disadari atau tidak oleh mereka, terkadang mereka tak merasa sebagai pelaku. Tak terduga, namun memang itulah kenyataannya.

Hal inilah yang terkadang memperlihatkan kedewasaan seaeorang. Ketika dia memiliki akar kepahitan pada orang yang disayang dan berusaha menyembuhkannya, berusaha menerimanya, berusaha tidak merusak hubungan yang sudah terjalin, dan yang paling penting, berusaha berdamai dengan diri sendiri. Karena adalah suatu kemunafikan ketika tertawa lepas dengan orang yang memberikan akar kepahitan tanpa memaafkannya terlebih dahulu.

Akat kepahitan memang dalam tertanam, namun bukan berarti tidak bisa dicabut.

image

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s