Kenapa Warna Biru, Yan?

Pertanyaan yang paling sering saya dengar setelah mereka memuji, “Wah, rambut kamu keren, ya!”

Dan kemudian, saya hanya menjawab, “Biar keren aja!” seakan menyetujui argumen mereka. 

Ya, banyak orang menanyakan alasan yang saya sendiri merasa bingung menjawabnya. Haruskah selalu ada alasan untuk sesuatu yang tak wajar? Bagaimana bila ternyata jawaban alasan yang dilontarkan justru tak memuaskan sang penanya? Walaupun dalam kasus saya, semua jawaban tentu dianggap memuaskan (karena mereka juga sebenarnya hanya basa-basi saja, saya tahu).

Ada yang bergurau, bilang saya terlalu cinta pada perusahaan tempat saya bekerja yang memang didominasi oleh warna biru. Gurauan yang cukup bapuk saya rasa…

Kalau boleh jujur, alasan saya meng-ombre warna biru adalah supaya terlihat mencolok. Yah, tujuan ombre memang untuk terlihat mencolok. Namun, tak semua orang berani semencolok saya. Akui saja. Sejujurnya, awalnya saya ingin ombre pink, yang terkesan lebih cute atau feminim. Tapi ternyata tidak ada warna tersebut dan pilihan yang ada hanya biru.

Sesederhana itu alasan saya, tak ada filosofi dalam yang bisa diceritakan sebagai latar belakang. Maaf, membuat penonton kecewa. Itulah kesalahan dari berharap lebih (Apasih…)

image

Bunch of loves,
Yanti Nainggolan

Hola, (Half) Blue Hair!

Sudah lama sekali tak mengisi blog ya. Cukup terlihat usang. Sebenarnya ada tulisan yang sudah disiapkan, namun apa daya terhapus bersama tulisan-tulisan lain……

Okay, mari buka lembaran baru saja dengan topik yang tak kalah penting dalam fase kehidupan seorang Yanti (halah!).

Awal November tahun ini, tepatnya tanggal 4, saya pulang ke kota tercinta Yogyakarta dalam rangka merayakan satu tahun saya bekerja. Ya, ini adalah cuti perdana. Sampai Jumat pagi setelah menempuh perjalanan selama 8 jam naik kereta, saya pun mengistirahatkan tubuh hingga menjelang siang sekaligus menunggu si Bontot adik tersayang (yang kelak akan menjadi supir) pulang kuliah.

Kemudian, setelah berdiskusi panjang akan ke salon mana, akhirnya kami sepakat menyambangi Salon Flaurent Kotabaru karena menurut si Bontot, salon itu menyediakan jasa rambut ombre.

Kami sampai di sana sekitar pukul 3 sore dan selesai pukul setengah 7 malam. Iya, lebih lama dari nonton Interstellar. Saya rasa, waktunya jadi lama karena harus di-bleaching dua kali. Maklum, rambut saya hitam banget biarpun sudah pernah di-cat coklat tua. Saat proses selesai, salon sudah tutup dan hanya tersisa dua pelanggan.

Rambut ombre ternyata tak mudah dalam merawatnya. Menurut mbak salon, lima pengeramasan awal akan membuat rambut luntur parah. Setelah itu, rambut akan tetap luntur tapi tidak terlalu banyak. Pada dasarnya, rambut ombre pasti akan luntur dan tergolong cepat. Iya lah, kan tiap keramas pasti luntur. Oiya, rambut ombre tak bisa merata lunturnya karena dari pengalaman pribadi, saya juga tak mengeramas secara menyeluruh. Jadi bagian yang luntur pun tak menyeluruh.

Oleh karena itu, saya sarankan untuk menggunakan handuk khusus (kalau bisa yang sudah usang) karena nantinya akan kelunturan. Selain itu, setelah keramas pakailah baju berwarna gelap (hitam paling aman) karena tak menutup kemungkinan tetesan rambut pun masih berwarna rambut ombre.

Dalam hal pengeringan, menurut informasi dunia maya, usahakan secara alami. Selama rambut masih ombre, jangan menggunakana alat-alat pemanas untuk rambut, seperti hair dryer atau alat catok/pengeriting. Alasannya? Rambut biasa saja rusak pakai itu, apalagi rambut ombre yang juga sudah kepalang rusak. Puji Tuhan, saya emang gak biasa pake begituan. Jadi tak merasakan adanya perubahan signifikan dalam ritual kecantikan satu ini.

Oiya, ngomongin keramas, ga afdol kalau ga omongin sampo. Mbak salon sebelumnya sudah mengingatkan agar memghindari sampo anti ketombe atau sampo dengan rasa mint. Entah mengapa, ga pernah pakai jenis sampo itu juga sih soalnya.

Ada sampo khusus untuk rambut berwarna yang tersedia di pasaran dengan harga yang lumayan mahal dibanding sampo biasa. Awalnya saya merasa tak akan ada perbedaan, namun ternyata saya salah. Jadi, setelah meng-ombre rambut, saya menggunakan sampo saya yang biasa. Di sinilah ketololan dimulai. Saya lupa kalau jenis sampo saya ada purifying yang artinya membuat warna asli makin terlihat. Keramas pertama, warna air bilasan biru buanget! Untungnya saya tidak melanjutkan ketololan lain dengan memakai kondisioner yang khusus untuk rambut gelap yang biasa saya pakai….

Karena stres sendiri melihat luntur yang sangat banyak, saya mencoba ganti sampo dengan rasa buah-buahan, tapi masih sampo biasa. Hasilnya tak jauh berbeda. Bilasan keramas masih sangat biru dan setelah kering rambut sangat kaku seperti kanebo kering.

Akhirnya, setelah dua minggu nerambut biru, saya memutuskan untuk membeli sampo khusus rambut berwarna beserta kondisoner. Bukan disengaja, tapi waktu itu saya malas pulang ke kos dan akhirnya jalan-jalan sebentar ke Carrefo#r untuk membuang waktu (dan berujung pada buang uang). Tapi ternyata saya tak menyesal setelah membeli sampo tersebut karena sekarang rambut saya lebih beradab. Maksudnya, bagian ombre tidak terlalu kering lagi. Jadi saya puas dengan sampo ini!

Sejauh ini, begitulah proses saya berambut biru dari awal hingga perawatan. Oiya, saya sekarang kalau keramas dua hari sekali (biasanya tiap hari) supaya warna rambut tahan lama. Maklum, harganya mahal jadi harus dipertahankan selama mungkin (normalnya tiga sampai enam bulan sebelum pudar ke warna bleaching).

Dan saya pun kini berambut setengah biru!

image
Before
image
After

Bunch of loves,
Yanti Nainggolan