Book: Life’s Missing Instruction Manual

JV

Buku dengan judul terjemahan “Panduan Hidup Sukses dan Bahagia: Yang Seharusnya Sudah Anda Ketahui Sejak Lahir” (2006) karangan Joe Vitale ini tidak pernah bosan saya baca. Desain sampul yang klasik membuat saya memilih membeli buku ini saat bazaar toko buku beberapa tahun lalu. Tak pernah menyangka dalam buku seharga Rp 10.000,- ini saya menemukan “sebuah” psikolog kehidupan. Beberapa tulisan singkatnya sangat memotivasi, membuat saya termenung, berpikir sejenak untuk mendalami, dan mulai mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari. Karena entah bagaimana, setelah membaca buku ini saya selalu merasa lebih baik.

 

Hal Ini Juga Akan Berlalu

Apa pun yang Anda alami sekarang, baik atau buruk, menyakitkan atau membahagiakan, pasti akan berlalu.

Saya sangat menyukai film Eternal Sunshine of the Spotless Mind karena film itu mengatakan (setidaknya bagi saya) bahwa kita selalu melarikan diri dari saat ini. Alih-alih menikmatinya – apa pun itu – kita berusaha sekeras mungkin melarikan diri ke masa depan atau masa lalu.

Saat Anda menyadari bahwa keadaan ini (apa pun arti momen itu bagi Anda) akan berlalu, hal tersebut bisa membantu Anda mensyukuri hal tersebut.

Jika Anda menyukai momen ini, nikmatilah karena momen itu akan segera berlalu.

Jika Anda tidak menyukai momen ini, santai saja, karena momen itu juga akan segera berlalu.

qv0vcO

Jatuh Cinta Diam-diam

Orang yang jatuh cinta diam-diam pada akhirnya selalu melamun dengan tidak pasti, memandang waktu yang berjalan dengan sangat cepat dan menyesali semua perbuatan yang tidak mereka lakukan dulu.

Pada akhirnya, orang yang jatuh cinta diam-diam hanya bisa mendoakan. Mereka cuma bisa mendoakan, setelah capek berharap, pengharapan yang ada dari dulu, yang tumbuh mulai dari kecil sekali, hingga makin lama makin besar, lalu semakin lama semakin jauh. Orang yang jatuh cnta diam-diam pada akhirnya menerima. Orang yang jatuh cinta diam-diam paham bahwa kenyataan terkadang berbeda dengan apa yang kita inginkan. Terkadang yang kita inginkan bisa jadi yang tidak sesungguhnya kita butuhkan. Dan sebenarnya, yang kita butuhkan hanyalah merelakan. Orang yang jatuh cinta diam-diam hanya bisa, seperti yang mereka selalu lakukan, jatuh cinta sendirian.

Orang yang jatuh cinta diam-diam harus bisa melanjutkan hidupnya dalam keheningan.

 

-Raditya Dika (Marmut Merah Jambu, 2010)

 

Ps. Saya sedang tidak mengalami ini. Namun tulisan ini entah mengapa cukup menyentuh dan membuat saya berpikir ulang tentang rasa terpendam yang tentunya pernah dialami sebagian besar anak muda ini. saya rasa, setiap kata dalam kalimat-kalimat ini tak bisa dipungkiri.

does-god-love-me

photopoems

“People used to say, ‘life does not exist by accidents,’ it maybe true with pictures embedded in my camera. It’s not something that happens by chance,”

-Henry C. Widjaja

 

Halo halo halo long time no write hahahaha

Kali ini saya mau bahas tentang salah satu artikel di majalah fotografi Exposure (Edisi 26, September 2010) yang mengulas tentang buku fotografi “Celebrating The Moment: A Compilation of PhotoPoems in Black & White” karya Henry C. Widjaja yang merupakan seorang penggiat fotografi tanah air sekaligus penggemar puisi yang merupakan direktur dari Astra Nissan. Sekilas info, buku ini diluncurkan tahun 2010 oleh PT Gramedia Pustaka Utama dengan 136 halaman.

Konsep buku fotografi satu ini adalah “PhotoPoems” (PuisiFoto) di mana, bagi seorang Henry, puisi dan foto masing-masing bisa berdiri sendiri, namun bukan hal mustahil bila keduanya saling melengkapi. Jika keduanya bisa saling menguatkan dan bersinergi, maka jadilah FotoPuisi. Selain itu, konsep hitam-putih juga diusung fotografer satu ini. Salah satu alasan beliau menggabungkan dua konsep seni ini adalah:

“In addition, there is one more reason; in a practical use, a poem can at least hold someone longer at a particular photo,”

Benar sekali. Saya sendiri, secara pribadi, lebih tertarik membaca puisi terlebih dahulu. Baru kemudian melihat foto. Mencoba memahami foto melalui puisi. Dan memang tak bisa dipungkiri, puisi tersebut menahan orang lebih lama untuk menikmati foto maupun puisi lebih dalam. Strategi jitu.

Beberapa puisi yang saya suka (maaf ga ada fotonya):

Melompati Kekhawatiran

Melompati kekhawatiran

Memasuki ketidaktahuan

Membuat hidup berjalan

 

Menengok Ke Belakang

Menengok ke belakang

Menyesali yang hengkang

Melongok ke depan

Mencemaskan yang akan

Hadir di kini sering terlewat

Meski di sini damai melekat

 

Alpen

Dingin dan panas

Sama-sama menjadi asap

Menjadi mega menuju langit

Yang ujungnya tiada

Bahagia dan derita

Sama-sama jadi cerita

Menggenapi sejarah

Yang ujungnya pun, tiada

 

The Shabby Look

That in the shabbiness there is beauty

Is not easiy agreeable

That the Godly Being was born there

moreover

 

 

Sanubari Jakarta

Kali ini  saya akan membahas tentang sebuah novel yang diangkat dari sebuah film yang berjudul sama. Jujur, sebenarnya saya sangat ingin menonton filmnya di bioskop karena artis idola saya (Albert Halim) menjadi salah satu pemerannya. Namun apa daya, belum sempat menonton, film sudah tidak tayang. Kurang mendapat apresiasi mungkin. Biasa, orang Indonesia terkadang agak malas untuk diajak serius dalam hal menonton…

Karena itu, sambil menunggu film bajakan keluar (hehehe), pemuasan hasrat lewat media cetaknya pun boleh lah… Berhubung teman saya Tia punya, jadi deh saya pinjam dan buatkan sedikit review-nya untuk anda semua. Mumpung lagi selo nih. Btw inti cerita ini adalah tentang LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, Transeksual/Transgender). Buku ini merupakan kumpulan 10 cerpen yang disutradarai oleh 10 orang juga. Okay, let’s  touch down!

 

SANUBARI JAKARTA (kumpulan cerpen)

Tahun terbit: April 2012
Pengarang:  Laila ‘lele’ Nurazizah
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta

 

Sanubari #1: ½ (G)

Kisah pertama bercerita tentang seorang Abi  yang mendongengkan dirinya yang menyukai seorang laki-laki, Biyan. Ia membayangkan Biyan senang ketika bersama Anna karena dia merah. Sedangkan Biyan bosan dengan Abi karena dia biru. Hal inilah yang membuat Abi menjadi ½ dirinya dan ½ Anna. Ya, Biyan menyukai Anna. Tapi mengapa Abi justru menjadi marah, padahal Anna melakukan semua yang ia suruh. Demi Biyan, tentu saja.

Penuturan yang menarik, membuat pembaca penasaran dengan pemikiran Abi. Apalagi perumpaan yang berbeda namun tetap dapat ditangkap dengan jelas. Biru dan merah. Laki-laki dan perempuan. Kedua warna yang menjadi simbol gender. Namun tetap saja, dua warna yang jelas berbeda. Mengapa harus memaksakan menggabungkan keduanya dengan mengambil  ½ dari masing-masing? Karena, pada dasarnya, menjadi ½ itu menyakitkan…

Dongeng ini aneh. Sudah dibilang jangan bertanya tentang keanehan. Ini hanya sebuah dongeng tentang laki-laki bernama Abi, yang selalu memakai kacamata tiga dimensi, yang menginginkan sejenis dia bernama Biyan. Tapi membagi diri bernama Anna. Yang membagi dunia menjadi warna merah dan biru. Yang membagi agar bisa memilih. Karena hidup adalah pilihan?

 

Sanubari #2: MALAM INI AKU CANTIK (T)

Seorang laki-laki yang berjuang mencari nafkah dengan menjadi cantik pada malam hari. Banci, itulah dirinya dalam bahasa keseharian. Cerpen yang menceritakan bagaimana perjuangannya menahan sakit secara fisik dan batin agar dapat mengrimkan uang kepada keluarganya di kampung. Paling tidak, ia menyenangi dirnya yang cantik pada malam hari. Itu saja cukup.

… Mungkin cantikku memang topeng, tapi cinta ini masih murni, layaknya cinta suami pada istrinya. Kasih sayang ini masih terjaga, layaknya bapak pada buah hatinya.

 

Sanubari #3: LUMBA-LUMBA (B)

Dalam hubungan suami-istri, ternyata tak selalu cinta yang diberikan kepada yang berbeda jenis. Walau terikat, tak berarti hasrat yang diberikan timbal-balik satu sama lain. Sang istri bisa menyayangi perempuan lain dan sang suami bisa memikirkan laki-laki lain di otaknya sebagai kekasih. Seperti Anggya yang menyayangi Miss Adinda dan Aga yang menyukai Adrian. Walaupun Anggya dan Aga telah memiliki Alisha sebagai buah hati mereka.

Mereka memang lumba-lumba. Adakah yang aneh? Tidak ada. Yang aneh hanyalah mereka sama-sama menyukai jenis yang sama tapi menyerah dan tetap berhubungan dengan jenis yang beda. Komplikasi…

 

Sanubari #4: TERHUBUNG (L)

Teratur, diatur dan sudah lama ada yang mengatur. Aturan jadi makanan pokok yang yak beralasan. Saya lupa kalau manusia punya kata bernama hak karena selama ini hanya berteman dengan kewajiban. Memang apa itu hak?

Dua perempuan yang mengalami rutinitas yang sama dengan keadaan yang berbeda. Kartika yang selalu mengikuti apa yang seharusnya ia lakukan sebagai tunangan Radit dan anak yang baik bagi kedua orangtuanya. Melakukan apa yang orang inginkan, bukan yang dia inginkan. Terkungkung dalam lingkaran kewajiban tanpa celah yang disebut hak. Sementara, Agata yang hidup ‘semau gue’ tanpa malu mengakui bahwa dirinya seorang lesbian. Status yang membuatnya selalu terlunta-lunta dalam hal cinta. Apa yang membuat mereka terhubung? Pertemuan di toko bra, tempat di mana keduanya memakai benda yang sama.

Bukannya saya takut bermain api, tapi dari dulu saya sudah dijauhkan dari api.

 

Sanubari #5: KENTANG (G)

Tapi ternyata rindu itu masih ada, hanya menunggu untuk diperjuangkan.

Sepasang homoseksual yang mengalami beberapa gangguan kecil ketika melepas rindu. Gangguan yang memicu terjadinya pertengkaran besar. Ada yang bilang, rindu mengalahkan segalanya, termasuk ego. Namun tak selalu. Acel dan Drajat akhirnya menyerah pada ego. Tiga pemicu pertengkaran (orang tua, skripsi, dan kosan) membuat rasa rindu terkubur dalam-dalam, enggan untuk keluar lagi.

Tapi pasangan itu sudah tidak lagi saling melepas rindu, padahal rindu masih ingin dilepas, tapi rindu sudah terlanjur terhempas memang belum jadi ampas, tapi bisa saja sudah terbang menjadi ringan bagai kapas.

 

Sanubari #6: MENUNGGU WARNA (G)

Berkisah tentang khayalan seorang lelaki yang memimpikan happy ending love story dengan lelaki yang berada di depan matanya ketika menunggu lampu lalu lintas berwarna hijau. Harapan tak berujung yang ia ciptakan dalam pikiran kecilnya membuat lampu merah enggan bergantian dengan warna lain. Ya, pada akhirnya ia sadar bahwa khayalannya tak akan menjadi kenyataan secepat pergantian warna pada lampu lalu lintas, bahkan tak  mungkin. Namun bukan berarti harapan itu hilang…

Sadarkah bahwa dongeng saya ini tak akan hijau. Kisah dongeng minoritas mana ada semulus ini. Dan memang tak ada hubungan seperti ini yang berjalan mulus, kan. Jangan terjebak pada warna. Tapi bukannya kita masih bisa menunggu warna?

 

Sanubari #7: PEMBALUT (L)

“Bi, sumpah untuk yang ini aku gak punya kuasa buat bilang nggak Bi. Kalau aku bisa nolak sesuka aku, aku juga mau Bi, kayak datang bulan Bi, kamu toh gak punya kuasa buat minta dia untuk ga dateng kan?”

Dua perempuan lesbian berselisih paham karena mereka tidak bisa bermesraan karena keduanya sedang datang bulan. Alibi yang sempurna. Kemarahan Bianca lebih karena Theresia akan mengakhiri masa lajangnya dengan seorang lelaki, bukan jenisnya. Namun ternyata Bianca sama saja para lelaki yang ia sebut bajingan, sama-sama suka bermain.

 

Sanubari #8: TOPENG SRIKANDI (T)

Seorang wanita, bernama Srikandi, memperjuangkan haknya sebagai seorang wanita yang tidak diterima di dunia kerja dengan menjadi seorang laki-laki. Dengan wujud begitu, ia berhasil mencapai puncak tertinggi. Tujuan utamanya adalah membuktikan bahwa wanita yang hanya dipandang sebelah mata oleh para lelaki itu justru yang memimpin mereka sekarang. Tinggal menunggu waktu yang tepat untuk melepas topengnya.

Semua suara itu terdengar tanpa perlu memperlihatkan wujudnya. Melayang di kepala Srikandi malam itu. Dan asap rokoknya yang mengepul  terbang di antara cahaya malam, seakan mengeluarkan semua yang ada. Semuanya akan selesai sebentar lagi. Topeng itu akan dibukanya besok. Topeng itu akan dibukanya untuk memperlihatkan siapa dia sebenarnya. Perempuan yang pernah terusir dari tempat duduknya. Ya semua akan selesai sebentar lagi.

 

Sanubari #9: UNTUK A (T)

Ketika kita berubah, hal kedua yang paling kita butuhkan setelah niat adalah pendukung yang setia. Kisah ini tentang seorang Arina yang berubah menjadi Ari dengan dukungan dari tantenya yang meerima dia apa adanya. Tante yang menemaninya melalui masa-masa yang A anggap tidak mudah. Semua itu tertuang dalam surat untuk A.

“A, pada akhirnya kamu memutuskan untuk menanam apa yang memang seharusnya tertanam. Dan kamu menemukan teman A. Kamu pun tidak pernah lupa bagaimana menemukan dia yang senasib denganmu bukan A? Kerena menemukan teman teman berbagi
yang merasakan hal yang sama buatmu adalah anugrah. Dan merasakan apa yang sangat ingin kamu rasakan, itu lebih dari sekedar hadiah.”

 

Sanubari #10: KOTAK COKELAT (T)

Cinta itu memaafkan dan sepaket dengan menerima.

Kisah tentang dua sejoli yang tengah memadu kasih bernama Mia dan Ruben. Namun tanpa Ruben sadari, mereka telah saling kenal satu sama lain, dengan wujud Mia yang berbeda. Kotak cokelat yang selalu disimpan Mia, kembali membuka kenangan itu. mia yang semasa kecil selau dicaci sebagai ‘banci’ oleh Ruben, kini menjadi orang yang dicintainya. Lalu apakah Mia telah memaafkan perlakuan kasar Ruben kecil dan Ruben tetap menerima diri Mia yang sekarang?

 

 

Even and Odd

“Bukankah kita adalah angka genap. Tak mungkin menjadi bilangan ganjil, selama tidak dikurangi. Kita terhimpun dalam suatu bagian lengkap, jumlah tetap yang tidak bisa dikali dan dibagi.”

(Lelaki Terindah, Andrei Aksana)

 

Have no idea about this sentence. In my opinion, it’s about couple story. Have you ever heard God make us in couple? We’re even when we have already found our soulmate. Then became odd when one of us leave first to meet Him. Is that so? Am I right? When being even, life’s full. But how about being odd? Is life’s suck? No at all. Being odd is the real adventure for me.

 

Talking about two types of number, I prefer to odds. Why? I don’t know. Maybe bcoz I’m 3rd daughter? Or bcoz I believe that 7 is the best number? Hahaha stupid me. For me, odd is cool. No need explain, bcoz it’s I can’t even explain to myself. Hey odd numbers, love you!

 

Sorry for this weird post. Made it in the midnight when I lost my mind bcoz of fucking tasks that I haven’t do yet. Hehehehe.

 

Cewek Rumahan

Kita hanyalah kanak-kanak

Yang dilarang bermain di luar rumah

Supaya tidak kotor dan cedera

Di dalam lebih aman

Meski hanya makan dengan nasi dan teri

(Lelaki Terindah, Andrei Aksana)

 

Believe it or not, this is what I negotiated in my life. Inget banget jaman kecil saya ga boleh maen ke luar. Cuma belajar atau pergi sama ortu. Ga bebas kayak anak-anak seusia saya. Tapi saya ga sedih atau nyesel dengan keadaan seperti itu. Saya tetap menikmati hidup saya walau hanya bisa bersantai-santai di rumah. Kebiasaan yang saya bawa hingga saat ini: malas keluar rumah. Bagi saya istilah home sweet home itu benar sekali. Tidak ada alasan ga betah di rumah. Kenapa harus ga betah? Ada tempat tidur yang luas, TV, makan gratis, dan bisa bercengkerama dengan keluarga. Satu paket yang sangat menggiurkan.

Saya tidak peduli dengan omongan orang yang mengatakan “Yanti kan cewek rumahan.” What’s wrong with that? Saya rasa walaupun sudah sebesar ini tidak masalah bila saya sudah berada di rumah sebelum pukul 9 malam di kala teman-teman seusia saya masih kelayapan di luar. Apa guna saya di luar rumah lama-lama kalau tidak nyaman? Don’t spend your time for something you don’t like. It’s better go home and doing your like inside.

Tapi saya juga tidak menyalahkan orang yang ga betahan di rumah. Everybody has a different house. Rumah yang memiliki bentuk arsitektur yang mencerminkan penghuninya. Bila tidak sesuai dengan personality, silahkan mencari ketenangan anda di luar. Semua bebas di dunia ini J

 

Dear God, bigthanks for beautiful house and all inside it J

on the top, forgetting all

Bukankah berada di puncak selalu menyenangkan?

Bau busuk tak pernah tercium sampai ke atas

Hanya mengendap di bawah

Dan kita lupa turun kembali

(Lelaki Terindah, Andrei Aksana)

 

Puisi yang cocok banget buat para politikus negeri ini. As we know, some politicians in this country don’t care about us. Keenakan di atas dan tidak peduli dengan rakyatnya. Atau lebih tepatnya pura-pura tak menyadari adanya  bau busuk menusuk hidung di antara padatnya jalanan kota? We don’t know. Akibatnya rakyat stuck dalam penderitaan yang tak berkesudahan. Para politikus licik yang bahkan tidak mau lengser dari jabatannya. Bagaimana negara ini bisa maju kalau sistem yang ada penuh dengan nepotisme?