Who’s these two girls?

image

On one package: superb sisters, crazy friends, abnormal partners, worst enemies, amateur therapists, or even unexpected soulmates.

image

image

image

image

That’s why I wanna keep them like forever cuz they’re always by my side in a good or bad conditions.

Thankyou for the love that you both give for me, Paskah Andriany Purba and Evi Komala Simamora.

A friend loves at all times, and a brother is born for a time of adversity. (Proverbs 17:17)

Bunch of loves,
Yanti Nainggolan

Tentang bekerja

Beberapa waktu lalu, teman saya bilang kalau pekerjaannya membosankan karena ga mikir. Bahkan kemarin teman saya yg lain juga bilang kalau pekerjaan dia yang baru pun ga terlalu mikir. Jadi sebenarnya, pekerjaan yang diinginkan adalah pekerjaan yang mikir, gitu?

Sejujurnya saya tak terlalu peduli apakah perkerjaan mikir itu penting apa engga, yang penting pekerjaan itu ga bikin stress. Kalau misalnya dapat pekerjaan yang ga mikir tapi ga suka dan berujung ga bahagia, buat apa juga? Lebih baik pekerjaan mikir yang menguras tapi bikin hati puas. Oke, saya mulai mengerti dengan maksud mereka.

Memang sekarang lagi hits banget bahas tentang pekerjaan. Di usia lulus-kuliah-saatnya-kerja-beneran ini semacam pekerjaan lah yang ada di kepala. Dan ada beberapa jenis pencari kerja yang saya ketahui:
1. Yang penting kerja
Entah sesuai atau tidak dengan jurusan/passion, pokoknya dapat kerja secepatnya. Perkara cocok atau tidak, gaji sesuai atau tidak, itu nanti saja. Yang penting lepas dari status pengangguran.
2. Sesuai dengan passion
Pokoknya harus teraplikasi ilmu yang sudah dipelajari. Tipikal idealis. Buat apa belajar lama kalau ga kepake?
3. Nama perusahaan harus terdengar
Biar cuma jadi kacung, pas ditanya dengan sok merendah bilang tempat kerja. Dan respon si penanya selanjutny “Wah, perusahaan gede tuh!” Dalam hati langsung bangga.
4. Lanjutin/ngikut sama ortu/them an
Biasanya yang punya usaha turun temurun. Atau cari kerja pake link dari ortu atau teman. Pokoknya ga perlu perjuangan keras, punya akses khusus soalnya.

Kalau saya yang mana? 2 dan 3. Dan ini kacau banget. Di saat teman yang lain sudah pindah kerja, saya gamau pindah kalu bukan ke perusahaan besar. Terlalu memang. Entah sudah berapa kali otak bilang, “Udah lah, ke korporasi aja, Yan. Mungkin emang jalanmu ga ke dunia media…” Tapi hati selalu ngotot gamau pindah ke bidang selain media. Berhadapan dengan orang yang keras hati saja melelahkan, apalagi kalau ditambah keras hati. Bhay!

Sejujurnya saya lumayan menikmati pekerjaan yang sekarang, sebagai content writer di startup web. Pekerjaannya sesuai dengan bidang dan tidak terlalu forceful. Hanya saja saya capek dengar koar2 orang sekitar yang meremehkan pekerjaan saya. Ini membuat saya sangat tertekan. Memang gaji tidak seberapa bila dibanding teman2 yang lain. Memang nama perusahaannya pun belum terdengar. Tapi bisa tidak diam saja? Tolong lah, sebelum kejiwaan saya benar2 terganggu.

image

Please stop doing that, gurls!

Halo, sudah (sangat) lama tak bersua!

Hanya ingin mampir sebentar untuk mempertanyakan suatu hal yang sangat mainstream dan membuat saya, sebagai cewek, secara pribadi jijik.

Pertanyaan ini muncul ketika saya sedang melakukan hobi baru: kepo. Istilah yang sudah tak asing di mana ini menjadi kegiatan favorit saya sebelum tidur (duh, ketahuan!). Lebih detail, saya suka kepo lewat media sosial Instagram. Mungkin karena sederhana, hanya foto dan caption, IG menjadi media sosial favorit.

Pada suatu malam ketika sedang asyik kepo, saya menemukan sebuah akun milik seseorang, sebut saja X. Kami tahu satu sama lain, tapi tak secara langsung kenal. Setidaknya, kami pernah mendengar nama satu sama lain terucap lewat mulut orang terdekat. Saat ini dia sudah bekerja di perusahaan yang bagus. Bisa dibilang masa depannya cerah. Tapi jangan salah sangka, saya bercerita tentang dia bukan karena ada rasa atau apapun. Sama sekali tidak. Lagipula, benang merah yang menghubungkan saya dan dia jelas mengindikasikan tak akan ada kisah kasih di antara kami.

Saya melihat secara detail setiap foto yang dia post: gambar, caption, bahkan komentar. Dari awal sampai akhir tanpa melewati satupun (untung fotonya tidak banyak hehehe). Iya, saya separah itu.

Saya memperhatikan, di awal hanya sedikit komentar, bahkan beberapa tidak ada, komen di foto2 tersebut. Kalaupun ada, itu dari kawan sesama jenis alias laki2. Tapi di post2 terbaru, banyak cewek2 (mungkin teman lama atau hanya sekedar kenal) yang komen. Dengan komen yang memuji atau sekedar basa-basi “Wah, keren ya…”, “Kamu di mana sekarang?” Blablabla. Bahkan yg “double tap” pun kaum hawa kebanyakan.

Hal pertama yg muncul di otak: pasti ini cewek2 pengen deketin si X karena dia udah kerja di tempat oke. Ya ampun, segitunya banget? Iya, sampe mikir begitu. Saya memang jahat. Tapi emang gitu kan?

Saya ga habis pikir dengan cewek2 macam mereka yang notabene seumuran dengan saya. Mencoba mendapat perhatian dari orang yang dulu tak pernah terpikirkan. Mencoba menjalin hubungan yang lebih karena tahu bersamanya masa depan terjamin. Emang sih kita udah harus serius dalam suatu hubungan. But not like this…

Memang terkesan naif, tapi saya bukanlah tipe orang yang mau berbalik ke belakang karena takut di depan tak lagi terlihat terang. Apa yg sudah terlewatkan, ya sudah. Memang tidak nasib. Ikhlaskan. Maju saja terus, toh jalan masih panjang. Masih banyak cerita menunggu untuk kita lakoni. Selama masih muda, jangan men-stop takdir semaumu. Tuhan lah sang sutradara, bukan kamu!

image

Nb. Kalau ternyata pemikiran saya ini salah besar, maafkanlah. Memang sisi jahat saya lebih dominan…