Akhirnya Ketemu Karimunjawa!

Dari sekian banyak wisata yang saya datangi (dan belum sempat diceritakan di sini), kali ini saya akan bahas tentang Karimunjawa secara lengkap dari awal sampai akhir. Kenapa wisata satu ini didahulukan? Karena sahabat saya Pristianingtyas Leonita alias Titum sudah kasih mandat buat menceritakannya di blog hehehe. Kalau engga, ya saya juga pasti menunda-nunda sampai lupa…….

Oks, langsung ke perjalanan saja ya. Here we go!

Jumat malam(24/3) saya dan Titum janjian di Stasiun Pasar Senen karena kereta kami akan berangkat pukul 23 ke Stasiun Semarang Poncol. Tiket kereta sudah kami pesan jauh-jauh hari sebelumnya dan ditotal per orang menghabiskan Rp 311 ribu PP. Kami berangkat tepat waktu dan sampai di Stasiun Pocol pukul 6 keesokan harinya.

image

Sampai di sana, kami mencari travel yang sudah kami pesan, yaitu Kencana Travel. Biaya pesan PP Rp 90 ribu per orang dan karena tidak dijemput di pool, maka kami harus menambah Rp 20 ribu per orang. Kami bertemu dengan mobil travel setelah etengah jam mencari-cari tempat parkir mobil, kami bingung karena tidak dihubungi langsung dari pihak sana…… Hih.

Waktu dari Semarang ke Jepara sekitar 2 jam, tak pakai macet, katanya Titum (soalnya saya langsung pelor begitu rebahan di mobil).

image

Oks, kami pun lanjut ke Jepara, atau lebih tepatnya Pelabuhan Kartini untuk selanjurnya menyeberang dengan kapal feri express Bahari. Sejujurnya, saya akui ini ketololan saya, kami tak memesan tiket kapal dengan asumsi bisa on the spot. Kami lupa kalau itu bertepatan dengan long weekend sehingga tiket pastinya sudah ludes dong…….

Dan benar saja, ternyata penyeberangan Sabtu sudah habis dan yang tersisa tinggal hari Senin. Kebayang dong kagetnya kami? Ya ampun, masa ga jadi sih….. Saya sampai tanya-tanya kalau ada yang ngebatalin tapi ternyata sudah dibeli juga sama orang lain.

Langsung lemas dan saya pun pasrah. Buka hape dan langsung searching tempat wisata di Jepara (dengan maksud menghabiskan dua hari ke depan di sini saja sudah) tapi gimana penginapannya nanti…

Sementara Titum langsung hubungi pihak hotel yang sudah kami pesan selama di Karimunjaya. Tak lama, dia langsung ditelepon dan ngobrol sebentar dengan pihak hotel. Ternyata ada tiket yang dibatalkan, dan kami bisa pakai. Tapi harus bayar dua kali lipat karena yang punya tiket tak mau rugi, dari Rp 150 ribu jadi Rp 300 ribu. Astaga!

Tapi karena sudah kepalang sampai sana, dan seperti kata Titum:

“Malu dong udah bilang mau ke Karimunjawa tapi malah ga jadi…” (dan emang kita berdua udah heboh banget sampai cari-cari bikini beberapa bulan sebelumnya sih)

Kami pun setuju dan membayar dua kali lipat. Oiya, perlu diketahui, jarak antara tempat penjualan tiket kapal dengan pelabuhan lumayan jauh, sekitar 500 meter, kami ke sana jalan kaki karena saat itu masih pukul 9 lebih, sementara kapal berangkat pukul 10 pagi.

Setelah bertransaksi, kami langsung meluncur ke pelabuhan, tapi kali ini dengan naik satu motor, yaitu motor si calo Mas Kampret, alias bonceng tiga! Bodoamat udah ga peduli lagi pokoknya naik kapal dah…

Begitu Mas Kampret parkir, langsung digodain sama cowok-cowok di sana, dan dimalah bilang:

“Ini pacar-pacarku!” sambil ketawa. Saya, balas, “Bodoamat, mas, yang penting gue nyampe dah…”

Sampailah kami di pelabuhan, yang ternyata cukup ketat karena diperiksa juga KTP si pemiliki tiket. Untung sempat ganti nama, kalau engga ya wasalam….. Kami pun duduk tenang dan sempat tiduran karena waktu perjalanan sekitar 2 jam.

image

Sesampainya di Karimunjawa, kami langsung bertemu dengan orang hostel, yaitu The Hapinezz. Setelah menunggu sebentar, kami pun meluncur ke hostel yang tempatnya lumayan juga ternyata. Setelah bersantai sebentar, dan membereskan perihal pembayaran dimana kamar yang kami sewa seharga Rp 225 ribu permalam dengan fasilitas kipas angin dan kamar mandi dalam, kami diberi peta lokasi wisata di pulau tersebut.

Hari pertama kami memutuskan untuk pergi ke daerah yang tak berhubungan sama pantai, jadi kami memilih Hutan Mangrove (pilihan Titum) dan Bukit Joko Tuwo untuk melihat sunset (pilihan saya). Kami menyewa kendaraan motor seharga Rp 75 ribu dan langsung meluncur ke dua tempat tersebut. Perjalanan ke Hutan Mangrove cukup jauh sih, sekitar 20 menit mungkin ya. Saya yang menyetir karena Titum pernah mengalami trauma naik motor matic. Tidak apa-apa, lagian saya juga sudah lama tak naik motor.

Sesampainya di hutan mangrove, kami membayar Rp 10 ribu per orang dan bebas menapaki jembatan kecil dengan pemandangan pohon mangrove yang lembab. Saran saya, lebih baik menggunakan lotion nyamuk karena sangat banyak nyamuk di sana dan ganas! Sampai-sampai kami ambil foto terburu-buru karena tak sanggup dengan serangan mereka.

image

Ada spot yang bagus di hutan ini, seperti rumah terbuka yang tinggi. Tapi kami tak naik karena sudah kehabisan tenaga, kami hanya melakukan video singkat untuk dipamerkan di media sosial Instagram…

image

Kami pun meluncur ke Bukit Joko Tuwo sekitar pukul 4 sore supaya tidak ketinggalan mengejar sunset. Saat akan naik ke atas, ada biaya retribusi Rp 10 ribu per orang. Sayangnya, saya rasa untuk urusan dijadikan tempat pariwisata, aksesnya masih perlu diperbaiki lagi. Petugas retribusinya juga kurang layak ya, hanya orang nungguin begitu aja.

image

Oks, jarak dari bawah ke bukit menurut saya sih tidak terlalu jauh, sekitar 100 meter. Sesampainya di atas, ada tiga spot yang bagus untuk diambil gambarnya. Jadi. Buat mereka yang ingin menangkap momen sunset dengan bagus, semua titik bagus lho!

Malamnya, kami mencoba wisata kuliner keEat & Meet Cafe, kafe dengan konsep masakan Barat. Kami hanya memesan pizza dan pasta saja, kalau harga sama saja dengan kalau kongkow di Jakarta. Kami berdua habis Rp 150 ribu. Cukup murah, jika melihat porsinya yang banyak sampai-sampai kami tak habis. Setelah itu, kami bersantai di depan hostel yang menyediakan hammorck. Leyeh-leyeh sampai pukul 11 malam sambil mainan hape dan lihat-lihat bintang.

image

Esoknya, kami snorkling ke tiga pulau. Karena kami duduk di belakang, kami tidak terlalu mendengar apa yang dibilang sama guide, kecuali dilarang menyentuh karang! Oiya, kami snorkling dengan menggunakan jasa tour hostel tempat kami menginap dengan mengeluarkan kocek Rp 200 ribu per orang, itu sudah termasuk sewa alat snorkling, kapal, mendapat foto dan makan siang.

image

Sayangnya, cuaca kurang mendukung dimana saat makan siang, hujan deras hingga kami makan sambil payungan. Bahkan, makanan kami tercampur dengan air hujan! Pengalaman yang luar biasa….

image

Selain itu, mendung terus-menerus hingga sore sehingga kami tak bisa mendapatkan sunset dan langsung pulang sebelum matahari tenggelam. Kami pun tak masalah karena kami sejujurnya sudah kedinginan jika tak nyemplung ke air.

image

Oiya, berbicara soal koral atau terumbu karangnya, saya suka sekali! Sangat berwarna, dari warna biru hingga ada yang merah muda. Beragam ikan juga tak takut pada manusia sehingga kami serasa berenang ditemani mereka.

image

Malam hari, saya dan Titum pergi ke Alun-alun. Di sana kami memesan seafood yang harganya murah sekali, yaitu cumi saus tiram Rp 25 ribu dan ikan kerapu bakar dengan harga yang sama. Ya ampun, murah dan enak….. meski agak gerimis, kami tetap mekan di tengah lapangan yang memang sudah disediakan tikar dan meja.

image

Selain itu, di pinggiran ada penjual oelh-oleh bertebaran dimana kebanyakan menjual pakaian. Saya pun membeli beberapa makan ringan, yaitu pastel kecil isi abon ikan dan kerupuk ikan asin dengan masing-masing harga Rp 10 ribu. Lumayan, oleh-oleh buat anak kantor.

Esoknya, kami hanya bermalas-malasan karena badan sudah sakit semua. Kami sarapan dan mainan papan panah bulat (malas mencaritahu nama permainannya) dan bermain catur dengan pemilik hostel. Sambil menunggu kepastian bagaimana kami nanti pulangnya karena tiket kapal masih dicari hehehe.

Karena kapal berangkat pukul 12 siang, kami berangkat satu jam sebelumnya. Ternyata cukup ramai karena berbarengan dengan kapal yang baru sampai. Setelah sempat dibuat jantungan karena tiket juga penuh, kami akhirnya bisa naik kapal, lagi-lagi dengan biaya tambahan.

Setelah jantungan jilid 1, kami lagi-lagi harus jantungan lanjutan karena travel yang kami pesan lama banget datangnya! Sampai harus ditelepon berulang kali, bilangnya pukul 3 sore dijemput, eh malah satu jam ngaret! Padahal kereta kami meluncur pukul 18.40. Udah ga bisa diungkapkan lagi gimana perasaan kalao ketinggalan, mana macet pula. Tapi, by the grace of God, kami sampai sekitar 10 menit sebelum berangkat. Fiuh! Begitu di kereta, kami langsung tenang adem tentram….

Ya, begitulah perjalanan wisata pertama saya dengan sahabat sejak SMA Titum yang sebar dilakuin sendiri. Emang capek sih, tapi banyak pengalaman seru yang didapat dan ga sabar untuk merencanakan liburan-liburan lain dengan orang-orang yang bisa diandalkan di setiap saat!

Bunch of loves,
Yanti Nainggolan

Jalan-jalan ke JungleLand Sentul, Asik!

Piknik dulu lah, biar ga gila. -Yanti, 2016.

Minggu (4/12), saya dan segenap keluarga besar Metro TV berbondong-bondong hijrah ke JungleLand Sentul City di Bogor untuk mengikuti family gathering MetroFest2016. Tentu saja semua bersemangat, biarpun di ibukota sedang ada acara besar #KitaIndonesia yang diasumsikan sebagai saingan Aksi Bela Islam Jilid 3. Padahal ya engga…

Oke, balik lagi ke MetroFest2016, kami pun berkumpul di kantor, yaitu gedung Metro TV pukul 5 pagi. Sebenarnya, pukul setengah 6, tapi karena teman saya Sonya didaulat jadi koordinator bus, saya pun diajak jadi asistennya. Jadilah kami jam 5 pagi sudah meluncur ke Lobby Grand. Ternyata beberapa orang/keluarga sudah nongkrong duluan di sana. Wuih…… Bangun jam berapa mereka? Saya yang cuma 3 menit jalan kaki aja rasanya masih ngantuk.

Singkat cerita, kami pun berangkat sekitar pukul setengah 7 dan sampai di sana sekitar pukul setengah 9. Sejujurnya saya gak tahu bagaimana perjalanan, kata mereka sih bus berjalan sangat lambat, karena saya langsung terlelap begitu kepala nempel di kursih hahahaha.

Sesampainya di sana, kami langsung meregistrasikan diri dan mencari teman-teman yang kami kenal yang kemudian dilanjutkan dengan swafoto bersama.

image

image

image

image

Setelah itu, kami diberikan es krim sebagai welcoming snack. Lumayan, janggal perut sebelum mencoba wahana (walaupun sudah diberi jajanan pasar waktu regitrasi). Kami menghabiskan es krim dengan perpaduan rasa yang wagu (alias ga nyambung) di spot replika candi. Saya googling, tak ada namanya heeee.

image

Setelah perut lumayan terisi, kami pun mulai mencari wahana yang ingin dimainkan. Pasukan kami terdiri dari 8 orang reporter yang 7 diantaranya masih lajang (belum nikah maksudnya) yaitu Kak Oje (Githa Farahdina), Bang Deny (Deny Irwanto), Bang Ogi (Yogi Bayu Aji), Bang Dheri (Dheri Agriesta), Bang Arga (Arga Soemantri), Onye (Sonya Michaella), dan Nunu (Whisnu Mardiansyah).

Kami pun mencoba wahana pertama, yaitu Wave Swinger. Wahana ini seperti Ontang-Anting di Dufan, tapi versi ringan. Biarpun begitu, saya tetap saja deg-degan. Karena ada yang takut, akhirnya yang naik hanya berempat: saya, Onye, Bang Ogi dan Bang Dheri. Saat wahana dimainkan, saya lumayan takut tapi kemudian saya malah jadi ketawa-ketawa sendiri soalnya Bang Ogi yang duduk di belakang saya teriak-teriak heboh banget! Asli, saya ngakak-ngakak sambil teriak-teriak ga jelas (biar ga kalah heboh sama Bang Ogi) hahaha!

image

Setelah itu, kami beralih ke Harvest Time. Ini semacam roller coaster mini yang hanya dua putaran. Kami sebenarnya tak terlalu cemas karena memang tak terlalu kencang dan ekstrem jalurnya. Namun jantung kami lumayan terpacu saat kereta setengah miring karena sejujurnya kami semua merasa kereta tidak stabil! Jadilah kami sok-sok heboh teriak-teriak ga jelas biar berasa asik hihihi.

Kemudian kami beranjak ke wahana ketiga, Haunted House alias rumah hantu. Di wahana ini, Bang Deny gamau masuk, jadilah kami bertujuh aja. Dan ketahuan sudah pada penakut ini reporter-reporter sangar fisik. Saya disuruh paling depan saat menuju kereta, sambil didorong-dorong pula! Padahal saat itu ada bapak-bapak di depan saya, eh dia ikutan mundur, malah di belakang Bang Arga… Pas saya berhenti gamau maju, mereka juga ikutan berhenti, ya ampun! Singkat cerita, kami naik kereta yang isinya masing-masing 4 orang. Kereta kami berisikan saya dan Bang Arga di depan, Onye dan Bang Dheri di belakang. Dan ternyata Nunu ga kebagian tempat duduk, jadilah dia harus nunggu giliran berikutnya. Hahahaha, kasian sih mana mukanya juga rada takut gitu lagi. Ya masa nanti dia ketakutan, megang-megang bahu orang ga dikenal? Kan tengsin!

Kereta pun berjalan sangat lambat supaya kami bisa melihat boneka-boneka ala bule menyeramkan (yang pastinya berlumuran darah dan baju robek-robek) disertai demgan perabot-perabot usang yang biaa menimbulkan bunyi-bunyi menyeramkan. Rasanya, kami lebih menikmati ketimbang ketakutan. Ketika masih ada cahaya, kami tidak terlalu takut, bahkan bisa ngobrol-ngobrol santai. Namun, kami cukup ketakutan ketika tiba-tiba ada orang yang muncul dari tikungan gelap! Sontak saya tarik-tarik lengan baju Bang Arga dan Onye pun demikian dari belakang hahahaha. Kami berdua teriak-teriak heboh. Ternyata itu hanya petugas yang sepertinya tidak dimaksudkan untuk menakuti, karena baju dia juga biasa aja.

Keluar dari wahan tersebut, Kak Oje bilang kalau di keretanya ada bapak-bapak yang melawak dimana saat melewati ruang penjara, bapak itu malah bilang ke boneka: “Lu ngapain sih kok sampai bisa masuk penjara?” Hahahaha asli lawak sih!

Menjelang siang, kami pun kelaparan. Saat menuju panggung utama untuk minta konsumsi, kami menyempatkan diri untuk mampir ke wahana yang searah, yaitu Dino World. Seperti namanya, ini semacam museum kecil makhluk purbakala. Tempatnya gelap dan ada efek suara-suara dari makhluk-makhluk yang saya kenal lewat film Jurassic Park dan Godzilla tersebut. Kami pun ikut mengeluarkan suara-suara yang serupa, erangan yang ga jelas antara singa kelaparan atau orang nguap kepanjangan…

image

image

Siangnya, setelah makan, kami mampir ke Three Point Basket. Saya sih karena pakai sepatu sendal, cukup tahu diri dengan diam saja dan iseng foto-foto wahana di sebelah, Rainbow Train buat anak-anak. Tapi aaya bosan dan kemudian berkelana sendiri mencari spot yang bagus.

image

image

image

image

image

image

Sayangnya, siang hari hujan deras sehingga saya dan Onye yang udah ngantri setengah jam batal bermain wahana yang saya lupa apa namanya (lupa googling hehe, tapi ada gambarnya kok). Padahal itu adalah wahana yang pengen banget saya coba soalnya bisa berputar 360 derajat! Seru nih pasti…..

image

image

Kami pun akhirnya berteduh sambil tidur-tidur ayam karena sangat ngantuk. Tapi ya namanya wartawan ya, semua kejadian difoto aja. Kali ini Bang Arga sama Bang Dheri iseng banget bikin meme dari foto-foto kita, semua jadi korban! Tapi lucu sih hahahahaha

image

image

image

image

Setelah hujan reda, kami pun nongkrong-nongkong di Starbucks yang ada di depan karena udah males coba wahana lain. Kami lebih butuh kopi untuk membuat mata tetap melek! Dan ternyata emang hujan deras datang lagi, untunglah kami tak lanjut. Kami pun menunggu kepulangan dengan ngobrol-ngobrol syantik (alias gosip hangat soal kantor hihi).

Demikianlah awal minggu di bulan Desember 2016 saya habiskan. Cukup menyenangkan dan menyegarkan pikiran tentunya. Selain bisa memacu adrenalin, keakraban pun semakin erat. Senangnya!

Terakhir, sebagai anak kekinian, tentunya tak afdol kalo belum pamer swafoto hihihi. Ga banyak kok, cuma dua :p

image

image

Bunch of loves,
Yanti Nainggolan

Bandung bersama Bebebs 💞

Saking lamanya ga nyentuh ini blog, ada beberapa fase hidup penting yang ga gue tulis di sini, kayak KKN, sidang & wisuda S1, liburan ke luar kota dll . Next time, kalo insomnia, gue bakal nulis deh….

Entah keajaiban apa yang terjadi, gue dan empat temen lainnya (Onye, Ijah, Kokoh, Nunu) bisa dapet libur di hari yang sama, yaitu 20 Februari 2016. Saking semangatnya, kita langsung berinisiatif buat nyewa mobil, padahal belum tau mau ke mana. Yang penting bareng aja gitu huehehehe.

Malam hari sebelum berangkat, kita masih diskusi mau ke mana, galau jadi pinjem mobil apa engga, nginep di mana. Dan entah dirasuki setan apa (lebay), kita sepakat buat ke Bandung pake nginep! Padahal gue sama Onye ada liputan di hari Minggu. Jam 10 malam mobil pun dipesan dan pembicaraan pun berakhir pukul 12 malam padahal harus ambil mobil jam 7 pagi. Ya ampun….

Niat hati sih berangkat pagi, tapi yang ada malah berangkat jam 11 siang. Kokoh, Ijah, sama Nunu yang kebagian tugas ambil mobil kena macet di jalan pas jemput gue sama Onye. San itu dalam keadaan kita semua belum makan dari pagi, kecuali Ijah yang udah makan bubur. Rencananya sih mau makan bareng dulu, baru cabs ke Bandung. Tapi karena udah siang, ya kita langsung melaju ke Bandung ga pake sarapan. Kita cuma mampir ke rest area beli minum sama roti buat ganjal perut selama perjalanan.

image

image

image

image

Destinasi pertama adalah Farm House Lembang. Karena weekend, pengunjung banyak banget dan jatohnya jadi ga menikmati. Soalnya ga bebas kalau mau ke manapun. Jadilah kita wefie di beberapa tempat, trus langsung cabs ke tempat lain. Intinya kita cuma numpang minum susu aja sih, soalnya ga nyampe setengah jam di sana. Atau mungkin karena saking laparnya, jadi bawaannya pengen langsung liat makananan aja kali ya. Yang penting ada foto berlima dan kita udah muter-muter. Saran gue buat kalian yang mau ke sini, sediain banyak waktu karena ini adalah kumpulan tempat nongkrong yang lucu-lucu gitu, bukan buat jalan-jalan.

image

image

image

image

image

image

image

image

image

image

Next destination: Pluncut. Menurut gue, ini adalah Bukit Bintang-nya Bandung. Lu makan sambil liat pemandangan kota Bandung, bagusnya sih pas malem. Cuma kita datengnya sore, secara kan langsungan dari Lembang. Makanannya, entah laper atau gimana, enak aja. Cuma jalannya ya agak bikin deg-degan sih, soalnya naik ke atas dulu dan mobil sering mati. Karanya sih gegara koplingnya dalam banget.

Selanjutnya kita rencana mau ke Alun-alun. Tapi ternyata ujan deres banget! Jadi deh kita muter-muter, belum lagi si Nunu yang bertugas sebagai co-driver malah salah ngarahin jalan lagi… Jadi deh Onye yang ambil alih jadi penunjuk jalan. Akhirnya kita mampir ke Cihampelas Walk cuma buat ambil duit. Ya itung-itung ngerasain mall lah ya (padahal di Jakarta banyak!). Karena tinggal gerimis, kita akhirnya lanjut ke Alun-alun kota bNadung yang katanya ada rumput sintetis di depan Masjid dengan dinding mural di sebrangnya. Kita juga liat-liat tugu KAA dan tembok paling hits se-Bandung.

image

image

image

image

image

image

image

Malamnya, kita nginap di Pom Bensin. Karena planning dadakan, otomatis kita ga nyewa kamar di hotel dong… Ya dengan posisi ala kadarnya, kita tidur kurang lebih 4 jam. Niat kita emang mau liat sunrise di Bukit Moko, jadi tahan-tahanin aja. Masa reporter gini aja ga kuat? Hahahaha. Tapi ternyata ada juga mobil-mobil yang sama kayak kita, numpang di Pom Bensin. Soalnya emang paling aman sih, daripada di pinggir jalan ya kan.

Jam setengah 4 pagi, kita cus ke Bukit Moko. Masih ngantuk, tapi nanggung banget kalo ke Bandung cuma buat tidur. Sampe di sana masih belum ada matahari. Kita pun pesen sarapan sekalian ngehangatin diri. Abis puas liat sunrise, kita niatnya mau ke arah lempeng apaan gue juga lupa, pokoknya naik ke atas gitu deh. Tapi berhubung hari itu gue dan Onye ada liputan siang, batallah rencana itu. Kita cuma naik bentar dan langsung balik Jakarta.

image

image

image

image

image

image

image

image

image

What a great lil escape! So thankful and can’t wait for next trip with my babes 🙂

Bunch of loves,
Yanti Nainggolan

Antara SD Card dan Media Sosial

Beberapa bulan lalu, SD card HP gue rusak dan sumpah panik abis. Secara gue belum pindahin semua foto-foto penting. Sedih abis…..

Gue coba berbagai cara: hidup matiin HP berulang kali, (kadang bisa kebaca, kadang malah blank dan disuruh format), sambungin ke laptop (berharap bisa kebaca di laptop, tapi hasilnya nihil), sampe gosok-gosok tembaga SD card (saran temen kantor yang aneh dan ga mempan), dan akhirnya nyerah.

Pagi harinya, gue curhat sama editor di kantor dan dia nyaranin buat selipin kertas putih di alot SD card. Kata dia, biasanya ga kebaca. Eh, ternyata bisa! Langsung heboh ga jelas dan pindahin foto-foto penting ke Google Drive. Alhasil kerjaan hari itu ga fokus hehehehehe.

Tapi besoknya, SD card rusak lagi padahal belum semua foto dipindah. Rusak melulu, berarti emang harus ganti. SD card bisa uzur juga ternyata….

Pelajaran penting dari kejadian ini: jangan beli SD card murahan (lho?!) Hahahaha engga ding. Maksudnya, gue harus rajin pindahin data biar ga panik kalo ada beginian. Momen itu penting banget, jadi harus disimpen. Bukannya narsis, cuma ga bisa dipungkiri kalo foto itu pereda kangen (ceileh!).

Dan kemudian gue berpikir buat nyimpennya di sini! Hahahahaha ide brilian sih buat gue. Kenapa ga di Facebook, Instagram, Path, atau media sosial lain yang lagi hits? Soalnya…… Alasannya banyak dan personal sih. Tapi berhubung gue lagi insomnia, jadi gue mau bahasa satu-satu deh.

1. Facebook
Medsos yang mulai gue pake pas masih pake seragam putih abu-abu ini masih digandrungi banyak orang sampe sekarang. Gue sempat vakum sih pas kuliah, tapi gue aktif lagi karena sesuatu hal yang gue sendiri malu buat ngaku dan yaudah deh sampe sekarang masih buka. Dan ternyata gua baru sadar kalo itu profile pic ga pernah ganti dari akhir tahun 2013! Wow banget ga sih…..

Alasan lain gue gabung lagi sebagai silent reader (kerja gue cuma ngeliat dan nge-like postingan orang lain) adalah karena ibunda tercinta juga terjun ke dalam dunia maya dan jadi pengguna yang superduper aktif dimana setiap hari beliau buat postingan dan gue secara tidak langsung merasa harus memantau supaya ga mempermalukan gue… Dan pas Mama ultah, gue bikin postingan gitu buat bikin seneng hehehe berbakti ya gue jadi anak (ga nyambung). Dan sedihnya, kadang Mama telpon anaknya yang sedang merantau ini cuma buat tanya hal seputar FB, bukan kabar anaknya. Sedih ya jadi gue…

Back to the topic, gue ngerasa kurang nyaman nge-share momen di FB karena jujur banyak yang gue ga kenal. Pas jaman awal FB, gue asal accept orang dan jadinya sekarang suka ga tahu ini siapa aja yang nongol di timeline. Dari segi aplikasi, enak FB sih, ada album soalnya. Tapi ya seperti gue bilang, males aja kehidupan gue dilihat orang-orang ga jelas.

2. Twitter
Medsos berlambang burung biru ini udah setahun lebih ga gue sentuh. Gatau kenapa, males aja. Dibanding temen-temen, tweet gue termasuk dikit, cuma 10 ribuan. Ini salah satu medsos yang menurut gue secara pribadi ngebosenin. Banyak kekangan (aih, bahasanya), cuma 140 karakter. Dan dibanding medsos lain, Twitter termasuk kurang lengkap. Setuju gak? Avatar gue aja masih pas jaman wisuda S1 dan kayaknya ga berniat ngeganti juga sih…

3. Instagram
Ini medsos favorit gue. Tapi gatau kenapa kalo ngeposting di sini tuh kayaknya harus yang the best of the best gitu deh. Ga bisa asal dan beruntun gitu, soalnya ntar orang jadi bosen. Lah gue aja suka sebel sama orang yang ngeposting beruntun gitu, makanya gue gamau kayak gitu. Padahal kan gue pengen pamer banyak foto. Jadi jelas ini media ga sesuai dengan kebutuhan dan keinginan gue yang pengennya simpen banyak momen. Lagian, somehow gue ngerasa kalo IG itu kayak jadi portofolio, jadi yang dipasang yang beneran bagus.

Dan gatau kenapa, hanya perasaan adinda saja atau gimana, kalo gue ngeposting yang menurut gue cakep dan artistik, yang nge-love dikit aja. Tapi kalo ada muka gue, banyak yang double tap. Dan gue pun berkesimpulan kalo medsos satu ini emang buat mereka yang suka dengan diri mereka sendiri alias narsis. Tapi ga semua gitu juga sih. Mungkin followers gue aja yang emang pengen tau keadaan gue ya, jadi pas tau gue masih hidup dan lengkap, mereka seneng. Makasih deh kalo gitu…

4. Path
Medsos yang lagi naik daun ini emang lagi disenengin banyak orang, termasuk gue. Nah, di sini gue suka share foto momen gitu. Tapi kan ga bisa banyak ya, soalnya orang bisa sebel juga kalo isi timeline cuma satu orang dengan momen yang sama. Ya intinya, gue ga suka liat orang ngeposting banyak momen secara beruntutan soalnya gue juga ga peduli-peduli amat sih. Jadi gue juga gamau bikin orang keganggu dengan ngeposting banyak momen atau foto. Lagian gue ngeposting buat nandain momen yang bahagia aja, ga tiap ganti lokasi.

Sebenernya ada banyak medsos lain, tapi berhubung gue cuma (sempet) aktif di empat medsos diatas, ya gue bahas itu aja. Dan akhirnya gue memutuskan buat nyimpen seabrek foto kenangan di WordPress dan Google Drive aja. Selain ga bakal dibaca banyak orang, ini juga ga ngeganggu siapapun. Wadah narsisme yang tepat! Wakakakakak.

Btw, kenapa gue jadi nulis banyak gini ya? Ah memang insomnia bikin jadi demen nulis…

image

Bunch of loves,
Yanti Nainggolan

You are my sweetest downfall. I loved you first…

Ketika dua orang yang sempat saling tertarik kemudian mengambil langkah masing-masing, dengan tidak baik-baik. Salah satu pergi begitu saja tanpa pamit, sebut saja Pengelana. Tidak menghilang namun mengakhiri rasa.

Yang ditinggalkan, merasa maklum. Tidak ambil pusing dengan kisah yang numpang lewat. Melanjutkan hidup, melihat kesempatan lain yang ada. Panggil dia ‘Si Acuh’ yang memang tak pernah mendengarkan peringatan yang sudah diberikan oleh orang-orang terkasih, selalu mengikuti kata hati sendiri.

Pengelana, sesuai dengan namanya, selalu mencari cinta ke mana pun kaki berjalan. Mampir ke banyak hati tanpa pikir panjang, menggoda sana sini.

Kemudian muncul tokoh baru, Pemusik yang berteman baik dengan Pengelana. Bukan masalah besar, jika saja Si Acuh tak jatuh hati padanya. Bermula dari sekedar tahu dan rasa kagum itupun muncul tanpa diminta. Tanpa alasan yang jelas, sosok Pemusik bersemayam di hatinya.

Dengan polosnya, Si Acuh meminta bantuan Pengelana untuk mengenalkannya pada Pemusik. Singkat cerita, Si Acuh pun mendapat respon positif dari Pemusik dan mereka pun saling mengenal.

Waktu pun berlalu menyenangkan. Percakapan sepanjang waktu yang tak pernah putus membuat kupu-kupu terus bermunculan dalam perut Si Acuh ketika mendapat pesan dari Pemusik. Ya, dia kegirangan.

Namun ada satu hal yang terlewat dari akal Si Acuh: ia lupa kalau Pengelana adalah teman Pemusik. Dan tentu saja, tak heran bila Pemusik tahu histori antara Si Acuh dan Pengelana. Kenaifan Si Acuh membuatnya berpikir bahwa kisah sesaat itu tidaklah penting.

Faktanya, ia salah besar. Pemusik sangat menyadari hal tersebut dan sangat menjaga perasaan Pengelana. Si Acuh yang kemudian mengungkapkan isi hatinya harus menelan pil pahit penolakan. Segala pujian yang dilontarkan Pemusik tentang Si Acuh nyatanya tak bisa membuatnya melirik ke dalam hati gadis itu tanpa ada bayang-bayang Pengelana. Penjelasan tentang rasa yang telah lama pudar pun tak membantu sama sekali.

Sinyal cinta yang terus dikirim Si Acuh hanya menjadi selingan bagi Pemusik. Pedih rasanya saat mengetahui bahwa usaha kerasnya hanyalah sia-sia, tak mengubah apapun.

Dan akhirnya, kisah pun selesai begitu saja tanpa klimaks. Semua kembali menjalani kehidupan dengan sewajarnya: Pengelana terus melangkah tanpa beban, Pemusik akan tetap menjadi teman yang setia, dan Si Acuh? Ia belajar bahwa apa yang ditanam, itulah yang dituainya kelak.

image

Even crying doesn’t help

When you wanna talk to someone but you dunno to who because everybody’s busy upgrading their life and you’re just stuck. Actually, you have some friends that don’t mind to hear your complaining of life but you know that they’re in the middle of happiness so you don’t wanna ruin it. You’re sad. And it’s not like nobody wants to help you but you’re too confused. So much confused with His plan. Everything’s not okay.

image

Everything Happens For a Reason

Waktu masih kecil, saya pernah ikut menemani kakak yang sedang berobat ke Rumah Sakit. Kami menunggu di bagian yang dekat dengan ruang Unit Gawat Darurat (UGD). Tiba-tiba datang seorang wanita muda dengan hanya memakai celana pendek ala rumah dan kaos oblong biasa hanya membawa dompet dan HP di tangan. Dia langsung menghampiri suster UGD dan dengan paniknya mondar-mandir sampai mendengar keterangan dari dokter bahwa kerabatnya yang berada di UGD sudah tidak bisa diselamatkan lagi. Jadilah ruangan itu penuh dengan tangis histeris. Kami, pera pengunjung, hanya bisa melongo atau menatap prihatin ke arah mereka. Karena masih kecil, pikiran pertama saya adalah “Ini mbak ga sempat ganti baju dulu apa ya? Kok baju rumah dipake keluar..”

Tak pernah terbayang minggu lalu saya berada di posisi itu. Pagi-pagi, ketika sedeng bermain laptop, di depan rumah ada beberapa orang datang. Saat itu, Uda Wanda, Om saya sedang di rumah, jadi dia yang menemui. Ternyata Mama jatuh di gang kecil. Reflek saya dan Uda ke TKP. Ternyata Mama masih sadar. Karena mau dibawa ke Rumah Sakit, akhirnya saya dan Uda kembali ke rumah untuk mengambil mobil. Tanpa sempat ganti baju. Hanya mengambil dompet dan HP kemudian kembali menghampiri Mama. Ya, saya hanya mengenakan kaos oblong dan celana pendek. Saya mengurus semua urusan masih dengan mengenakan pakaian rumah. Padahal saya mondar-mandir, keluar masuk kawasan Rumah Sakit. Setiap berpapasan dengan orang, mata mereka jelas cukup lama berhenti ke saya. Tapi saya tidak terlalu risih, lebih tepatnya tidak ada waktu buat peduli lagi dengan pandangan mereka.

But, through this insident, I’ve got some life lessons, experiences, and reflexions. Yeah, everything happens for  a reason is a appropriate title for this post.

 

Everything has its first

“Wah, hebat, Tong. Pertama kalinya dong ya ngurusin orang opname. Lumayan tuh” kata sahabat saya, Tyas, waktu jenguk Mama. Haha kepikiran aja ya dia. Like I’ve told, without father’s not in town, I had to take care of my mother at the hospital. Semua-muanya. Pertama kalinya.  Mulai dari masukin ke IGD, ngurusin rawat inap, ngecek ke ruangan opname, dengerin penjelasan dokter gimana keadaan Mama, nungguin kaki Mama di-gips. Bolak-balik ruang IGD, kamar opname, sampai ngurusin piutang asuransi. Ga kehitung udah berapa kali mondar-mandir di lorong rumah sakit. Tanya terus ke suster tentang apa aja. Ya ampun, lumayan lho itu. biasanya, Bapak yang ngurusin semua tetek bengek persyaratan soal opname kalo keluarga kami ada yang harus rawat inap. Ternyata ribet ya, kirain biasa aja..

 

Crying relieves pressure on soul

“Kak Yan, nangis ga waktu Mama kecelakaan?” Pertanyaan sederhana waktu rekan-rekan pelayanan di Sekolah Minggu menjenguk. Kalau boleh jujur, saya tidak terlalu kaget waktu dengar Mama kecelakaan, sudah terbiasa malah. Funny fact, I didn’t cry at all while taking care of her at the hospital. Bahkan saya sempat kesal karena rencana hari itu gagal semua. Setelah selesai mengurusi semua dan Mama sudah aman di kamar opname, akhirnya saya dan Uda kembali ke rumah. Saya mengambil pakaian Mama dan Uda akan pergi meninggalkan Jogja untuk mengurusi pekerjaannya di Sragen. Setelah Uda bersih-bersih, dia kemudian pamit untuk pergi dan berpesan agar saya sabar menhadapi semua ini.

After he left, I went to bathroom then cried. I was crying all alone, couldn’t stop. It’s like, all these feelings of afraid, panic, confused, and tired; are exploded. Yeah, I’m not that strong. At that time, my father’s not in town, my sisters weren’t around which is I couldn’t reach them, I was really think that I’m alone and lonely. I was feeling insecure and scared. Seriously. I’m not a type of girl that can crying in front of people. So I waited till I’m alone then weeping in the locked room.

 

A problem well stated is a problem half solved

“Inang kecelakaan hari Senin, baru kau cerita hari Rabu, Kak? Luar biasa..” Sejujurnya, saya bukanlah tipikal orang yang suka menceritakan masalah yang sedang dialami. Bahkan saat kecelakaan ini, saya baru mengabari Bapak siang harinya. Kakak yang berada di luar kota malah baru tahu malam hari saat kita chat di grup LINE.

I usually state my problem while it’s solved. So I don’t have to answer the classic question: “How’s your problem? Is there any progress? I think you should blah blah blah…” I’m too lazy to answer them. Moreover, other suggestions make me more confused to choose the way of solving my problem. But for this case, I didn’t know why I told this to my trusted friends. Maybe I kinda tired with the responsibilities that I couldn’t handle at this situation and indirectly asked them to tolerate it. But still, I don’t think that Charles F. Kettering’s thought is good at all.

 

Last but not least: get well soon, Mommy..

IMG_20131004_115200