penghuni malam perempatan KM. 0

Tugas akhir mata kuliah Fotografi Jurnalistik kali ini adalah membuat “Photo Essay” yang artinya kumpulan beberapa foto yang mampu menceritakan suatu proses ataupun profesi seseorang. Untuk semakin memperjelas foto, caption atau narasi juga dicantumkan. Namun karena saya merasa kumpulan foto ini tidak saling berkaitan, maka caption yang saya buat berbentuk isi hati para model. Sekedar informasi, lokasi pengambilan foto adalah perempatan KM. 0, Yogyakarta. Photo Essay ini berjudul “Penghuni Malam Perempatan KM. 0”

1

“Kami adalah keluarga besar hantu yang tinggal di seberang Kantor Pos. Salam kenal.”

 2

“Siapa bilang penyihir hanya ada di negeri dongeng? Lihat, aku berada di tengah-tengah keramaian.”

 3

“Hey, kenapa takut padaku? Aku hanya ingin menunjukkan anakku yang cantik…”

 4

“Merasa kesepian di tengah keramaian. Ahh, ini memang bukan duniaku.”

 5

“Lihatlah kendaraan-kendaraan yang semakin hari semakin banyak. Kota ini memang tak pernah sepi.”

6

“Hey, Mas… kenapa menjauh? Kukira kau memfoto karena menyukaiku…”

 7

“Walaupun kami menakutkan, mereka tetap mengerubungi. Manusia memang aneh.”

 8

“Kenangan itu berharga. Kami tahu. Karena kami adalah bagian dari itu.”

NB. turut berdukacita atas kepergian Ibunda Astrid Wahyu Adventri, teman SMP saya. semoga keluarga diberi ketabahan dalam menghadapi cobaan. Amin.

here’s the ‘SPEED’

here’s some kinds of some photos that using speed techniques. I’m just an amateur, don’t expect too much. but I took them myself. hahaha!

panning

Panning is a photography technique performed through capturing an object in motion while moving the camera in parallel to the object. By moving the camera together with the object, the object remains sharp and the background becomes blurred. The background blur is a result of the motion and is in the opposite direction of the object motion.

freezing

Freezing/stop action is a very common technique. Given a scene with an object that moves at a certain speed, the photographer can capture it with a high shutter speed and freeze the action.

smearing (slow motion)

Smearing/slow motion is photographing with a shutter speed slow enough that the objects to be photographed are blurred in their motion. Due to the fact that the target objects are slightly blurred.

bulb

Bulb is a shutter speed setting on an adjustable camera that allows for long exposure times under the direct control of the photographer. With this setting, the shutter simply stays open as long as the shutter release button remains depressed.

Mata Separuh Tertutup Untuk Hakim

Berita mengenai korupsi, hari–hari ini telah menyita perhatian kita semua. Seluruh media telah menjadikan berita mengenai korupsi sebagai berita utamanya. Maknanya bisa bersifat ganda. Di satu sisi mengesankan hebatnya pemberantasan korupsi, di sisi lain mengesankan banyaknya korupsi itu sendiri di Indonesia. Tidak hanya di Jakarta, tetapi juga di daerah, sehingga orang juga terkesan dengan luasnya wilayah korupsi. Modusnya juga bermacam–macam. Meskipun demikian, berita–berita itu tidak luput dari kritik masyarakat. Bahkan mengesankan adanya kontroversi.

Kontroversi lain yang ingin kita kemukakan adalah, lepasnya kasus korupsi di berbagai daerah. Jerih-payah KPK menemukan kasus korupsi bisa berakhir vonis bebas di pengadilan. Masyarakat, sudah tentu bertanya, bagaimana bisa terjadi kasus seperti itu? Keraguan terhadap proses peradilan di daerahpun muncul, sehingga kredibilitas hakim dipertaruhkan. Demikian juga peradilan kasus Nazarudin, dimana KPK tidak puas dan dikabarkan akan banding. Meskipun secara prosedural tidak ada salahnya, masyarakat tetap saja bertanya, ada apa di pengadilan? Antara tuntutan jaksa dan vonis hakim sering berbeda jauh. Dan aneh juga, kalau KPK juga tidak puas dengan putusan pengadilan, meskipun (sekali lagi) secara prosedural tidak ada salahnya.

Selama ini, kebanyakan pemberitaan yang ditayangkan media tentang pengadilan korupsi fokus pada para terdakwa, saksi,dan keterangan para pengacara. Terkadang hakim sebagai penentu dalam sebuah pengadilan tidak terlalu dilirik. Padahal, yang bisa melakukan kesalahan tidak hanya terdakwa. Tak sedikit hakim yang turut terlibat dalam beberapa kasus, yang justru membantu para tukang tilep uang negara ini.

Beberapa hakim bahkan membebaskan para terdakwa koruptor oleh Pangadilan Tindak Pidana Korupsi di daerah. Sebut saja Hakim Ramlan Comel dan Joko Siswanto yang membebaskan Ahmad Ru’yat, Eep Hidayat, dan Maochtar Mohamad yang merupakan koruptor kelas kakap di daerah Subang dan Bekasi. Selain itu ada juga Solehuddin, Ketua DPRD Kutai Kartanegara nonaktif yang terlibat kasus korupsi dana operasional dewan pada 2005 senilai Rp2,6 miliar, yang dijatakan bebas oleh Pengadilan Tipikor di Samarinda. Beruntung Indonesia Corruption Watch (ICW) melihat ada kejanggalan atas kasus tersebut dan berusaha mengusutnya.

Namun nampaknya kebusukan para hakim ini tidak terlalu tercium oleh media. Hal inilah yang menyebabkan para hakim Pengadikan Tipikor masih bisa bernapas lega. Padahal tak sedikit dari merka yang juga tersandung kasus, seperti penipuan. Hal ini sangat disayangkan mengingat besarnya biaya yang dikeluarkan pemerintah untuk menyeleksi dan membayar gaji para hakim ini.

Media seharusnya lebih membuka mata lagi supaya dapat memberikan informasi yang penting bagi para penikmat media itu. Kecenderungan dalam memberitakan berita yang paling penting terkadang menutupi informasi lain yang tak kalah menariknya. Yang diperlukan media untuk saat ini adalah lebih mempertajam insting mencari berita seputar pengadilan korupsi yang tak hanya terbatas pada orang di luar, tetapi juga orang di dalam pengadilan.

Sang Penari: Ambisi Seorang Penari Ronggeng

Minggu lalu saya bersama teman-teman menonton sebuah film buatan anak negeri yang yang berjudul Sang Penari. Dari judulnya saja, saya sudah bisa menebak kalau film ini akan bercerita tentang kebiasaan suatu daerah yang berbau mistis. Sebagian hipotesa saya ini ternyata tidak salah. Pada awalnya saya tidak terlalu tertarik. Setelah menontonnya, saya tidak merasa rugi sama telah menghabiskan waktu kurang dari dua jam dalam ruangan besar gelap karena film ini tidak mengecewakan, untuk ukuran film Indonesia.

 

Sang Penari menceritakan kisah seorang gadis bernama Srintil yang sangat berambisi menjadi seorang penari ronggeng di Dukuh Paruk. Bukan hal yang mudah karena menjadi penari ronggeng haruslah memiliki keris yang membuktikan bahwa ia memang utusan roh. Srintil, dengan bantuan Rasus, akhirnya diakui sebagai penari ronggeng. Srintil mau melakukan apa saja untuk itu, termasuk melakukan ritual ’buka kelambu’ di mana ia harus menyerahkan keperawanannya pada para  laki-laki yang kaya di kampung itu dan melakukan hubungan seks dengan mereka sesudah menari ronggeng. Rasus, laki-laki yang mencintai Srintil, tidak suka dengan hal itu. Namun ia tidak bisa berbuat banyak. Nasib berkata lain, ia diajak menjadi pasukan militer sehingga harus meninggalkan Dukuh Paruk.

 

Waktu berlalu, Srintil telah menjadi seorang penari ronggeng yang terkenal. Pada saat yang bersamaan, ia bertemu kembali dengan Rasus yang bertugas melihat keadaan dukuh tersebut yang diduga sudah dipengaruhi oleh PKI. Di sinilah terbukti bahwa sasaran partai adalah daerah yang tidak melek terhadap politik. Cinta Rasus yang besar terlihat melalui usahanya yang gigih mencari Srintil yang juga tertangkap. Singkat cerita, Srintil tetap mejadi seorang penari hingga akhir cerita walaupun hanya penari jalanan. Akhir cerita yang menunjukan konsistensi seorang pemeran utama yang tetap melakukan pekerjaan yang sangat dicintainya.

 

Film yang cukup menarik karena berani menguak suatu adat daerah yang tidak biasa. Cukup kaget saat ada adegan di mana para ibu-ibu malah tidak keberatan jika suami mereka berhubungan seks dengan Srintil. Jelas bukan hal yang lazim dalam kehidupan saat ini. Namun di sinilah justru kita dapat melihat sudut pandang yang berbeda di tiap daerah dalam memandang suatu keperawanan seorang gadis. Film ini mengangkat bagaimana suatu adat daerah bisa bertentangan dalam norma umum suatu bangsa yang tetap dijalankan. Pantas mendapatkan acungan jempol.

 

Menonton film ini membuat saya berpikir bahwa sebenarnya Indonesia lebih bagus memproduksi film yang berlatar masa dulu di mana pemerannya masih menggunakan pakaian daerah seperti kebaya. Lebih tepatnya mengambil setting di pedesaan. Menurut saya, feel ke-indonesia-an sangat kentara di tiap film yang berlatar jaman seperti itu. Lagipula banyak ide cerita yang bisa dimunculkan dengan tipikal film seperti ini hanya dengan menceritakan kebiasaan atau adat suatu daerah yang memiliki keunikan masing-masing. Karena pada dasarnya keunikan adalah suatu harta karun yang sudah terlihat jelas, hanya belum bisa diolah dengan baik saja.

 

The Great Dictator: Sindiran yang Kocak

Film yang membuat penontonnya sangat terhibur. Padahal film ini merupakan sindiran yang cukup menyentil hati para pendukung Hitler. Dengan Charlie Chaplin sebagai pemeran utama yang berperan sebagai tukang potong rambut Yahudi sekaligus Adenoid Hynkel, yang mencerminkan seorang Adolf Hitler. Film hitam putih ini ternyata film pertama di mana Caplin mengeluarkan suara. Film hitam putih ini juga menyabet berbagai penghargaan dalam Academy Award, yaitu: Outstanding ProductionUnited Artists (Charlie Chaplin, Produser), Best Actor – Charlie Chaplin, Best Writing (Original Screenplay) – Charlie Chaplin, Best Supporting ActorJack Oakie dan Best Music (Original Score).

Hal yang menarik dari film ini adalah bagaimana seorang Chaplin bisa membuat film yang sebenarnya beralur berat menjadi ringan dengan sentuhan komedi pada bagian yang tepat. Bila dilihat, ada bagian di mana adegan itu merupakan kejadian nyata yang terjadi beberapa tahun silam. Namun film ini membelokkan cerita hingga menjadi lebih mudah diterima dan berkesan lucu. Namun tak dapat dipungkiri ranah politik benar-benar tercium menyengat dalam film ini. Dalam tulisan ini saya hanya membahas tentang Hynkel saja karena secara pribadi saya menyukai Hitler.

Adegan yang menarik adalah ketika Hynkel menari-nari kegirangan saat membayangkan ia akan menjadi penguasa dunia. Dalam ruangannya, ia menari dengan slow motion dan lemah gemulai. Cukup menggelikan. Dengan durasi yang cukup lama, ia menari ke segala arah dalam ruangannya. Ia bahkan menari-nari dia atas meja dengan bola globe plastik sebagai temannya. Globe itu dilambungkan berulang kali hingga pecah dan dia sendiri kaget. Sangat menggelikan. Melalui kejadian ini, lewat seni menari dalam yang dilakukan Hynkel, menunjukkan bahwa ada unsur seni dalam film ini.

Selain itu ada juga hal yang menggelikan berkenaan dengan kebiasaan seorang Hynkel. Ia memiliki ruangan dimana terdapat seorang pemahat patung dan pelukis yang stay di sana sepanjang waktu, berpura-pura memahat dan melukis ketika Hynkel datang. Hynkel mendatangi ruangan itu hanya untuk selingan sesaat yang berkesan wajib. Meski sibuk, ia tetap mendatang ruangan itu selama beberapa detik. Pemahat dan pelukis sendiri merasa kesal dengan pekerjaan mereka yang tidak jelas. Pasalnya lukisan dan pahatan patung sudah jadi sehingga tak ada lagi yang bisa mereka kerjakan. Hynkel berulang kali datang ke ruangan itu dengan suasana hati yang berbeda-beda. Salah satu adegan yang kocak karena menurut saya hal itu sangat tidak penting. Tatapi saya jadi berpikir bahwa sebenarnya Hynkel adalah seorang yang narsis atau memuja dirinya sendiri. membuat patung dirinya, lukisan dirinya dan kebiasaan melihatnya merupakan salah satu bentuk narsisme yang tinggi. Saya sendiri penasaran apakah Htitler, tokoh yang disindir, adalah seorang narsis atau bukan. Tapi bisa juga itu hanya lucu-lucuan saja agar penonton terhibur.

Dalam film ini juga memperlihatkan bagaimana pidato Hynkel yang menurut saya sangat bagus. Tak heran banyak orang mengikut dia. Dengan intonasi yang tegas dan menggebu-gebu, tentu ia sangat meyakinkan. Tak lupa ekspresi wajah yang berubah-ubah seiring kata-kata yang ia keluarkan. Dengan penuh percaya diri dan tanpa malu ia juga menunjukkan body language yang tak biasa. Tapi tentu saja unsur komedi tak hilang dari adengan ini. Justru kelakuan kocak tampak terlihat jelas, contohnya mic yang bengkok sendiri ketika didekati. Memang film ini dibuat hanya untuk mengocok perut para penontonnya saja.

Battleship: Film Bisu Sarat Emosi

Battleship adalah sebuah film bisu yang dibuat pada Oktober 1905. Titik awal pengembangan ‘bahasa film’ dimulai dari sini. Film yang dibuat alam rangka Perayaan Revolusi Rusia ini dibiayai seluruhnya oleh pemerintah. Karena hal ini, tak heran bila film ini mengandung unsur politik, lebih tepatnya sebagai sarana propaganda.
Film ini terdiri dari lima bagian yang saling berhubungan dengan tema yang berbeda. Pada intinya berkisah tentang kehidupan di kapal yang bernama “Potenkim”. Film yang berdurasi lebih dari satu jam ini memakai para awak kapal sebagai pemeran utama. Para awak kapal ini melakukan pemberontakan terhadap atasannya karena perlakukan yang tidak adil. Bagian awal bercerita tentang perlakuan tidak adil dengan memberika daging yang sudah banyak belatung pada awak kapal. Cukup menjijikan. Lalu muncul ide-ide pemberontakan yang dicetuskan oleh salah satu awak. Saat upacara, rencana pemberontakan yang telah disusun pun dilaksanakan. Target berhasil dibunuh, namun ada juga awak yang mati tertembak. Hal ini ternyata juga memicu pemberontakan di kota. Mereka menganggap awak tersebut mati karena membela keadilan. Padahal menurut saya sendiri, ia mati karena ceroboh tidak waspada dengan sekitarnya sehingga bisa tertembak. Di mana letak membela keadilan? Terlalu berlebihan bila dia dikatakan seperti itu. Lagipula semua awak kapal memang menginginkan keadilan, baik yang hidup maupun mati, makanya terjadi pemberontakan.
Menurut saya, bagian yang paling menarik adalah ketika ketika ada anak kecil yang terinjak-injak karena terlepas dari pegangan tangan ibunya dan terjatuh kemudian. Raut muka ibunya yang melihat anaknya terinjak-injak oleh banyak orang yang berlarian sangat ekspresif. Ketika anaknya kesakitan, ibunya menghampiri dan menggendongnya dengan posisi yang tidak wajar, menurut saya. Bila digendong dengan posisi begitu, apa si anak tidak tambah kesakitan? Walaupun sekarat, logikanya anak tetap akan kesakitan bika dibegitukan. Berbeda lagi jika anak itu sudah mati. Tapi saya juga tidak menyalah kan si ibu, karena siapa tahu budaya menggendong di sana memang seperti itu atau si ibu yang saking terburu-burunya naik ke atas sehingga tidak memperhatikan cara menggendongnya.
Mengambil sudut pandang lain, sang ibu memang terlihat sangat mencintai anaknya. Saat yang lain melarikan diri, ia justru dengan berani mendatangi para prajurit ke atas untuk protes. Yah, walaupun pada akhirnya ia mati ditembak, tetap saja tindakan yang ia lakukan cukup berani pada masa itu. Menghadapi para prajurit yang membawa senjata dan bisa menembaknya kapan saja. Untung si ibu sempat mengeluarkan kemarahannya sehingga paling tidak dia mati tidak dengan sia-sia, memendam kekesalan maksud saya.
Bagian dalam film ini yang juga menarik adalah subtitle yang berbeda. Film ini menggunakan satu layar penuh untuk subtitle. Tentu saja ini memakan durasi film. Namun justru saya suka karena gambar jadi terlihat semua tanpa ada yang tertutupi. Kalau film masa kini, subtitle terletak di bawah sehingga gambar tidak terlihat seluruhnya dan tulisan juga kecil. Subtitle dengan bagian tersendiri ini cukup bagus karena tulisannya juga besar dan tidak terlalu cepat sehingga bisa dibaca. Awalnya memang bingung dengan tokoh yang hanya berbicara tanpa bisa mengerti maksudnya. Tapi justru di situ letak menariknya. Kita jadi fokus memperhatikan ekspresi wajah tokoh tanpa perlu terbagi konsentrasi dengan membaca subtitle yang biasanya ada di bawahnya.