Kenapa Warna Biru, Yan?

Pertanyaan yang paling sering saya dengar setelah mereka memuji, “Wah, rambut kamu keren, ya!”

Dan kemudian, saya hanya menjawab, “Biar keren aja!” seakan menyetujui argumen mereka. 

Ya, banyak orang menanyakan alasan yang saya sendiri merasa bingung menjawabnya. Haruskah selalu ada alasan untuk sesuatu yang tak wajar? Bagaimana bila ternyata jawaban alasan yang dilontarkan justru tak memuaskan sang penanya? Walaupun dalam kasus saya, semua jawaban tentu dianggap memuaskan (karena mereka juga sebenarnya hanya basa-basi saja, saya tahu).

Ada yang bergurau, bilang saya terlalu cinta pada perusahaan tempat saya bekerja yang memang didominasi oleh warna biru. Gurauan yang cukup bapuk saya rasa…

Kalau boleh jujur, alasan saya meng-ombre warna biru adalah supaya terlihat mencolok. Yah, tujuan ombre memang untuk terlihat mencolok. Namun, tak semua orang berani semencolok saya. Akui saja. Sejujurnya, awalnya saya ingin ombre pink, yang terkesan lebih cute atau feminim. Tapi ternyata tidak ada warna tersebut dan pilihan yang ada hanya biru.

Sesederhana itu alasan saya, tak ada filosofi dalam yang bisa diceritakan sebagai latar belakang. Maaf, membuat penonton kecewa. Itulah kesalahan dari berharap lebih (Apasih…)

image

Bunch of loves,
Yanti Nainggolan